Minggu, 16 Mei 2010

Kematian

KEMATIAN:
Perspektif dan sikap teologis
Pendahuluan
“Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi?” (Ay. 14:14) Pertanyaan
Ayub ini menjelaskan kepada kita bahwa kematian merupakan realitas yang
pasti dihadapi semua manusia tanpa terkecuali. Kematian memberi
kesadaran bagi kita bahwa hidup manusia terbatas. Kematian dapat
dialami siapa saja, besar-kecil, tua-muda, tanpa diduga sama sekali dan
dapat terjadi lebih awal karena kelaparan, sakit penyakit, perang dan
bencana alam. Kematian adalah akhir radikal dari eksistensi manusia1.
Secara iman, kematian dipandang sebagai akibat ketidaktaatan terhadap
Allah.
2
Pertanyaan klasik yang selalu diajukan: bagaimanakah
sebenarnya keadaan manusia saat mati? Apakah hanya tubuh manusia yang
mati dan jiwa/roh manusia tetap hidup? Apakah tubuh berbeda dengan
jiwa/roh saat terjadi kamatian? Apakah jiwa/roh manusia tidak mati
(immortal) ? Makalah ini hendak menjelaskan soal kematian dari berbagai
sudut pandang, antara lain filsafat (Plato), budaya (Batak), ilmu
kedokteran dan agama (Islam dan Kristen). Secara khusus pandangan para
teolog Kristen dan kesaksian Alkitab mengenai kematian, diuraikan
dengan panjang lebar. Akhirnya, makalah ini ditutup dengan kesimpulan
dan refleksi teologis.

1. Konsep kematian menurut filsafat
Dalam sejarah filsafat dualisme antara jiwa dan tubuh dikembangkan oleh
Plato (429-347 s.M), seorang murid Socrates dan pendiri gymnasium yang
dinamai ”Academi”. Plato menekankan bahwa yang rohani mempunyai
prioritas terhadap yang jasmani. Jiwa berlainan dengan tubuh. Jiwa
dapat dibagi atas tiga fungsi: epithmia (keinginan), thymos (energik)
dan sebagai puncaknya logos (rasional). Sebelum seseorang dilahirkan,
ia sudah berada sebagai jiwa murni dan hidup di kawasan lebih tinggi,
di mana ia dapat memandang suatu dunia rohani. Di dunia rohani itu,
jiwa menikmati pengetahuan mengenai ide-ide dalam dalam cara hidup
kontemplatif. Di dunia rohani, jiwa sejak dahulu sudah ada, dan karena
itu jiwa itu baka3. Jiwa hendaknya dipandang bukan seperti ia
menampakkan diri dalam kenyataan (bertalian dengan tubuh), melainkan
dalam kemurniannya, tanpa dicemarkan oleh tubuh. Dengan demikian
kematian dapat dianggap sebagai pengungsian penuh gembira dari tubuh.
Bila tubuh musnah, jiwa hidup terus4.
Kelahiran menyebabkan jiwa
manusia terkurung dalam tubuh. Tubuh adalah penghalang bagi jiwa yang
selalu bergerak. Karenanya manusia harus melepaskan diri dari tubuh
dengan cara melayangkan pandangannya pada realitas yang ideal melalui
filsafat. Filsafat sebagai latihan dalam melepaskan ikatan-ikatan jiwa
dan persiapan akan kematian. Dengan demikian filsafat sebagai hasrat
akan kebijaksanaan menjadi juga suatu jalan keselamatan5.

2. Konsep kematian menurut budaya Batak
Secara genealogis-antropologis, suku Batak yang bermukim di bagian
utara dan barat laut Pulau Sumatera terdiri dari enam suku, yaitu suku
Karo, Pakpak atau Dairi, Simalungun, Toba, Angkola dan suku Mandailing.
Kata Batak memiliki pengertian beragam, misalnya: ’penunggang kuda yang
lincah’ atau ’kafir’ atau ’budak-budak yang bercap’6. Dalam salah satu
mitologi Batak, manusia pertama bernama Tuan Mulana (Yang Awal) yang
hidup karena hasil karya Boru Deak Parujar (putri dewa yang berada di
bumi) setelah menerima perintah dari Mulajadi Na Bolon (sang Awal yang
Maha Besar yang berkuasa atas segala yang ada). Atas ketetapan Mulajadi
Na Bolon, maka Boru Deak Parujar menjadi manusia dan istri dari Tuan
Mulana. Merekalah yang menjadi nenek moyang orang Batak.7 Mulajadi Na
Bolon diyakini sebagai Allah dari segala ilah yang menjadikan langit
dan bumi dan dan singgasananya berada di atas langit ketujuh. Di sana,
Mulajadi Na Bolon dikelilingi oleh segala dewa-dewa, raja-raja dan
pembesar-pembesar dunia ini8.
Kematian dipercaya sebagai tempat
berkumpulnya roh-roh orang yang sudah mati, yang sewaktu-waktu akan
datang kembali untuk mengambil sanak keluarga, kenalan, atau orang
asing, untuk dibawa ke tempat kumpulan itu. Karenanya, orang Batak
berkata: ”Na dialap ompungna do i.” Artinya, ”Dia sudah diambil
neneknya”. Hidup di akhirat setelah kematian adalah kelanjutan hidup di
dunia ini.9 Saat kematian terjadi, para anggota keluarga duduk
berjongkok mengelilingi jenazah dan meratapinya. Ritus ratapan (andung)
dilakukan karena mereka merasa segan dan takut terhadap begu (hantu)
yang telah mengambil jiwa orang yang ditangisi itu. Karena dia
(almarhum) sudah jadi asing dan berada di bawah kekuasaan setan maut.
Di sini pentingnya kehadiran tokoh datu (tokoh spirituil adat) untuk
menjaga supaya roh orang mati tidak mengikutsertakan jiwa seorang dari
orang-orang yang mengantarkannya memasuki liang lahatnya. Hubungan
orang mati dan yang hidup tidak berakhir dengan kematian. Roh orang
mati masih dapat mengunjungi keluarganya untuk memberi nasihat atau
petunjuk. Baru setelah 5 generasi hubungan roh orang mati dan
keturunannya putus10.

3. Konsep kematian menurut ilmu kedokteran
Penyebab kematian menurut ilmu kedokteran tidak berhubungan dengan
jatuhnya manusia ke dalam dosa atau dengan Allah, melainkan diakibatkan
tidak berfungsinya organ tertentu dari tubuh manusia. Kematian menurut
dokter H. Tabrani Rab dapat disebabkan empat faktor: (1) berhentinya
pernafasan, (2) matinya jaringan otak, (3) tidak berdenyutnya jantung
serta (4) adanya pembusukan pada jaringan tertentu oleh
bakteri-bakteri11. Seseorang dinyatakan mati menurut Dr. Sunatrio
bilamana fungsi spontan pernafasan/paru-paru dan jantung telah berhenti
secara pasti atau telah terbukti terjadi kematian batang otak12. Dengan
demikian, kematian berarti berhentinya bekerja secara total paru-paru
dan jantung atau otak pada suatu makhluk. Dalam ilmu kedokteran, jiwa
dan tubuh tidak dapat dipisahkan. Belum dapat dibuktikan bahwa tubuh
dapat dipisahkan dari jiwa dan jiwa itu baka. Manusia dipahami secara
holistik atau utuh.13.

4. Konsep kematian menurut agama Islam
Manusia menurut ajaran agama Islam adalah makhluk Tuhan Allah. Manusia
berada karena diciptakan oleh Allah. Manusia bukan Allah, bukan
keturunan Allah, melainkan makhluk yang harus menghambakan diri kepada
Allah14. Manusia terbagi atas dua unsur yaitu roh/jiwa dan tubuh
(jasad). Unsur roh atau jiwa dipahami berasal ”dari atas”, sementara
unsur tubuh (jasad) adalah unsur tanah/bumi15. Roh atau nyawa manusia
adalah zat yang halus, yang pada waktu mati meninggalkan tubuhnya yang
kasar itu16.
Surat Al-Zumar ayat 47 mengambarkan bahwa kematian
sama dengan tidur. Lebih lanjut hadis Nabi Muhammad saw mengatakan :
”Tidur adalah saudara mati. Di surga tiada mati, sehingga tiada pula
tidur.”17 Mati adalah perpisahan roh/jiwa dari jasad.18 Roh/jiwa tanpa
tubuh pada saat kematian akan segera pergi ke alam Barzakh sebelum
seseorang dibangkitkan untuk masuk surga atau terjerumus ke neraka.
Seseorang yang hidup di alam Barzakh dapat melihat apa yang terjadi
pada keluarganya di dunia ini dan dapat pula melihat apa yang
menantinya di alam surga atau neraka kelak. Karenanya, Al-Quran
mengingatkan agar setiap orang selalu berbuat amal kebaikan selama
hidupnya (QS 23:100)19.

5. Konsep kematian menurut teolog Kristen
5. 1. Yohanes Calvin
Yohanes Calvin (1509-1564) lahir di Noyon, Perancis Utara, tokoh
Reformasi yang dikenal dengan karyanya “Institutio” (1536), sebagai
bimbingan teologis bagi tafsiran dan penelaahan Alkitab20. Manusia
menurut Calvin harus dimengerti berdasarkan Alkitab yaitu sebagai
ciptaan Allah yang paling unggul dari seluruh ciptaan lain. Kenyataan
yang tak terbantahkan bahwa manusia terdiri dari jiwa dan raga. Yang
dimaksud jiwa ialah suatu wujud yang abadi, tetapi yang diciptakan
juga, yang merupakan bagian manusia yang paling luhur. Meskipun dalam
rupa lahir seorang manusia tercermin kemuliaan Allah, namun tak perlu
diragukan bahwa gambar Allah sebenarnya terdapat di dalam jiwa.21
Yang dimaksud “gambar” (tselem) adalah hakekat manusia yang tidak dapat
berubah, sedangkan ”rupa” (demuth) adalah sifat manusia yang dapat
berubah. Yang dimaksud dengan hakekat manusia yang tidak dapat berubah
ialah bahwa manusia memiliki akal, kehendak dan pribadi. Dalam
perkembangannya, manusia harus menjadi “serupa” dengan Tuhan Allah22.
Di dalam jiwa manusia terdapat dua bagian, akal budi dan kemauan. Tugas
akal budi ialah membeda-bedakan hal-hal yang ditemui, apakah harus
dibenarkan atau disalahkan; dan tugas kemauan ialah memilih dan
mengikuti apa yang dianggap baik oleh akal budi, menolak dan menjauhi
apa yang disalahkannya. Akal budi adalah pemimpin dan pengatur jiwa,
sedangkan kemauan selalu mengindahkan isyarat akal budi. Jadi Allah
telah memperlengkapi jiwa manusia dengan akal budi dan kemauan sehingga
manusia mempunyai kemauan bebas untuk mencapai kehidupan kekal23.
Dosa telah membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah sehingga gambar
dan rupa Allah pada manusia menjadi rusak Setelah manusia jatuh dalam
dosa, tubuh itu fana (mortal body). Tubuh adalah tabernakel bagi jiwa
dan sekaligus dapat menjadi kemah Allah bagi kemuliaanNya. Jiwa berbeda
dengan tubuh sebab jiwa itu tidak dapat mati atau abadi (immortal).
Jiwa dan roh adalah sama yang keduanya menunjuk kepada hal batiniah
pada manusia. Kematian adalah perpisahan antara jiwa dan tubuh. Pada
saat kematian, jiwa dibebaskan dari kungkungan tubuh. Dengan demikian,
tubuh yang fana (mortal body) identik dengan keberdosaan daging (sinful
flesh). Kematian telah mengakhiri perjuangan orang percaya dalam
peperangan menghadapi keinginan-keinginan daging24.
Ketika
manusia meninggal, jiwa terpisah dari tubuh dan tubuh kembali kepada
tanah/debu. Tetapi jiwa itu baka, dan setelah terpisah dari tubuh, jiwa
tidak terkena hukuman dan tidak ”tidur” dalam kematian. Setelah
kematian, jiwa menikmati damai sorgawi (heavenly peace) sambil menunggu
kebangkitan daging. Jiwa mengalami kedamaian yang lebih tinggi setelah
lepas dari tubuh dan mencapai penyempurnaannya dalam kebahagiaan
kebangkitan daging kelak. Jiwa orang percaya setelah keluar dari tubuh
hidup terus dan merasakan ”kedamaian sementara” (provisional
blessedness) di dalam Allah walaupun belum sempurna25.
Kesempurnaan
kedamaian terjadi setelah kebangkitan daging kelak. Yang bangkit adalah
tubuh dan bukan jiwa (1Kor. 15:54; Yoh 2:29). Daging yang dibangkitkan
kelak tidak akan binasa dan dalam penyatuan dengan jiwa, siap
menghadapi takhta pengadilan Kristus untuk menerima pahala kehidupan
kekal. Walaupun manusia telah jatuh ke dalam dosa, Allah mengasihinya.
Manusia berdosa diselamatkan Allah hanya karena anugerah (sola gratia)
dalam Yesus Kristus sehingga manusia patut mengucap syukur dan
memuliakan Allah (soli Deo gloria) atas anugerah keselamatan tersebut26.

5. 2. R. C. Sproul
R.C. Sproul, seorang teolog dan pendeta Amerika berpendapat bahwa
manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah adalah makhluk
yang dibuat dari tubuh yang bersifat materi dan jiwa yang bukan materi.
Baik tubuh maupun jiwa diciptakan Allah dan merupakan aspek yang
berbeda. Paham dualitas ini menggambarkan bahwa manusia merupakan satu
keberadaan dengan dua unsur yang berbeda, yang disatukan oleh Allah
dalam penciptaan. Keberadaan manusia ini tidak memerlukan penambahan
unsur atau substansi lain (seperti roh) baik secara filosofikal maupun
secara eksegetikal, untuk menjembatani ketegangan dari dua unsur yang
berada dalam diri manusia27.
Tubuh itu diciptakan baik dan tidak
memiliki warisan kejahatan secara fisik. Namun, baik tubuh maupun jiwa
telah tercemar secara moral oleh dosa. Manusia adalah berdosa baik
tubuh maupun jiwanya. Jiwa manusia diciptakan oleh Allah dan tidak
berasal dari kekekalan. Meskipun jiwa tidak terdiri dari materi dan
tidak dapat dihancurkan oleh kekuatan fisik tetapi jiwa dapat
dimusnahkan oleh Allah. Jiwa tidak dapat berada tanpa kebergantungan
kepada Allah, ”Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada,
seperti yang telah dikatakan pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari
keturunan Allah juga.” (Kisah para Rasul 17:28)
Pada waktu
kematian, meskipun tubuh ini mati, tetapi baik jiwa orang percaya
maupun orang tidak percaya tetap hidup. Orang-orang percaya menantikan
pemenuhan dari penebusan mereka, sedangkan orang yang tidak percaya
menunggu penghakiman Allah. Oleh karena Allah menjaga jiwa dari
kematian, maka manusia memiliki kesadaran terus menerus akan keberadaan
pribadinya yang melampaui kematian. Keseluruhan pribadi manusia jatuh
ke dalam dosa; baik tubuh maupun jiwa adalah obyek penyelamatan Allah
yang diberikan berdasarkan kasih karunia-Nya28.

5. 3. Andarias Kabanga’
Andarias Kabanga’, lahir di Rantelemo, Tana Toraja (21 Maret 1951)
adalah pendeta Gereja Toraja dan Doktor teologi dari SEAGST yang
mengajar sebagai dosen di STT Rantepao dan Direktur Pasca Sarjana STT
Intim Makassar. Disertasinya menyoroti konsep mati seutuhnya dalam
konteks Toraja dengan sudut pandang antropologi Kristen dalam kaitan
dengan rumusan Pengakuan Gereja Toraja (PGT).
Kabanga’ dalam
bukunya Manusia mati seutuhnya berpendapat bahwa manusia yang
diciptakan Allah adalah suatu totalitas, keutuhan. Berdasarkan
tafsirannya atas Kej. 2:7, nisymat hayyim (daya hidup) maupun nefesy
hayah (jiwa hidup) diciptakan Allah, dan bukan zat Allah yang keluar
dari diri-Nya. Nisymat hayyim adalah kehidupan atau daya hidup yang
diciptakan Allah karena belum ada yang menghidupi jasad manusia pada
saat itu. Tuhan Allahlah yang menciptakan nisymat itu barulah ada daya
hidup yang dihembuskan. Dengan kata lain ”nafas hidup” adalah ciptaan
dan bukanlah nafas-Nya Allah. Nisymat hayyim inilah yang dihembuskan ke
dalam jasad yang diambil dari tanah sehingga jasad itu menjadi nefesy
hayyah (jiwa hidup). Oleh karena sumber Yahwist selalu melukiskan Allah
dalam karyaNya itu secara antropomorfis, maka dipakailah kata yippah
(menghembuskan), sehingga banyak orang sering memahami nisymat sebagai
nafas-Nya Allah. Akibatnya terjadi kesalahpahaman bahwa jiwa manusia
dipahami sebagai ”jiwa-Nya” Allah, yang berarti zat Allah/unsur ilahi
ada dalam diri manusia. Tubuh dan jiwa manusia adalah ciptaan dan fana.
Karenanya sewaktu meninggal, dia secara totalitas: tubuh dan jiwanya
takluk kepada maut. Dimensi jiwa dan roh pada manusia mengalami
kematian sama seperti tubuhnya29.
Bila Alkitab berbicara tentang
jiwa/roh orang yang telah mati (1 Sam. 28:7, Pkh. 12:7), itu tidak
berarti bahwa dimensi jiwa/roh pada manusia immortal, melainkan yang
ditekankan bahwa manusia secara totalitas atau seanteronya ”tidak
habis”. Manusia seanteronya, yakni refaimnya (bayangan diri manusia)
tetap ada dalam anamnesis (ingatan) Allah sampai ia dibangkitkan
kembali. Selama manusia itu mati, selama itu juga dimensi jiwanya dan
tubuhnya tidak mempunyai kekuatan apa-apa dan tidak bereksistensi
seperti kalau manusia itu masih bernafas. Karena jiwa dan tubuh manusia
tidak mempunyai kekuatan apa-apa ketika ia mati, maka mendiang bagaikan
orang yang tidur (Lih. Luk 8:52-53). Dengan demikian, satu-satunya yang
tidak takluk kepada maut hanyalah Allah, karena Dia itu kekal (1 Tim.
6:16)30.
Manusia mati seutuhnya dan karena itu manusia juga
bangkit seutuhnya. Dikatakan bangkit seutuhnya, karena semua dimensi
manusia ”dibangkitkan” dalam kuasa Allah. Allah tidak mencipta ulang
untuk kebangkitan orang mati, melainkan dia jugalah yang dibangkitkan
kelak. Kehidupan baka di masa datang bukanlah penciptaan baru. Yang
mati itu jugalah yang akan hidup seanteronya dalam total personality
yang sempurna yaitu tubuh sekaligus manusia rohani. Dengan demikian,
”aku” manusia yang mati, ”aku” itu juga yang dibangkitkan kelak31.
6. Kematian menurut kesaksian Alkitab

Kata yang dipakai dalam Perjanjian Lama untuk kematian adalah mawet,
mut32 (Ibrani) dan Perjanjian Baru memakai kata thanatos, nekros33
(Yunani). Antropologi Perjanjian Lama menjelaskan bahwa manusia bukan
berasal dari Allah melainkan diciptakan oleh Allah (Kej. 1:27) atau
dibentuk oleh Allah dari debu tanah dan diberi kehidupan setelah Allah
menghembus nafas hidup ke dalam hidungnya (Kej. 2:7). Bila manusia
disebut ciptaan maka didalam manusia ada unsur ketidakkekalan
(mortality). Dalam Kej. 2:16-17 terdapat larangan makan buah
pengetahuan yang baik dan jahat dengan akibat ”mati”, mut. Perintah
Allah itu itu dilanggar manusia sehingga manusia mati dalam pengertian
terpisah dengan Allah; bukan mati dalam pengertian jasmani34. Sikap
ketaatan kepada Allah juga dikemukakan oleh Tuhan Yesus saat dicobai
Iblis di padang gurun (Mat. 4:4). Rasul Paulus juga berbicara manusia
yang mati (nekros) karena pelanggaran dan dosa (Ef 2:1, Rm 7:9).Tekanan
kata nekros adalah ”mati” karena terhukum. Selain itu dalam Roma 6:23,
Rasul Paulus mengatakan bahwa upah dosa adalah maut (thanatos) dan yang
telah masuk melalui dosa Adam (Rm. 5:12). Akibat dosa, manusia terputus
hubungannya dengan Allah35.
Dalam Kej 2: 7 dikatakan bahwa Tuhan
Allah membentuk manusia dari debu tanah. Allah memasukkan nafas
(neshamah) ke dalam bentuk jasmani, dan dengan cara itu manusia menjadi
makhluk hidup (nefesh chayyah)36. Masuknya nafas Allah pada manusia
bukan berarti manusia menerima jiwa atau roh ilahi (divine soul or
spirit). Paham tentang roh atau jiwa yang ilahi tidak terdapat dalam
Perjanjian Lama; hanya dikatakan bahwa roh (ruach) atau nafas kembali
kepada Allah. (Pkh 12:7) Konsep ruach sama pengertiannya dengan pneuma
dalam Perjanjian Baru37. Konsepsi nefesh (jiwa) adalah daya yang
menghidupkan tubuh dan tidak dapat dibayangkan jika berada di luar
tubuh. Perjanjian Lama tidak mengenal paham trikotomi, pembagian
manusia ke dalam jiwa, roh dan tubuh, atau paham dikotomi, pembagian
manusia ke dalam jiwa dan badan38. Roh bukan sesuatu yang terpisah dari
jiwa. Roh dan jiwa tidak dapat pernah dipisahkan sama seperti jiwa dan
tubuh39. Saat manusia mati tubuh itu memasuki proses menjadi tanah
kembali (debu). Jelas, kematian membuat hidup manusia berhenti, tetapi
bayang-bayang manusia masih tetap hidup, a shadow dalam Syeol40.
Paham immortalitas jiwa tidak dikenal dalam Alkitab. Manusia mengalami
kematian bukan karena Tuhan, tetapi karena kemauan manusia sendiri yang
hendak menjadi sama seperti Allah. Dosa utama ini yang membawa kematian
dalam hidup manusia. Pandangan rohani yang dalam ini berasal dari
konflik antara tradisi Yahwis berhadapan dengan konsepsi dunia Timur
kuno. Manusia disebut sebagai gambar Allah (image of God), karena
manusia memiliki hubungan khusus dengan Allah di mana manusia dipercaya
menguasai alam semesta (Kej. 2:8-25). Di sini manusia hidup dalam
”keadaan tidak berdosa” sehingga mereka tidak malu saat keduanya
telanjang41.
Manusia yang terdiri dari tubuh, roh dan jiwa
disebut sebagai manusia seutuhnya; manusia sebagai suatu totalitas.
Manusia yang utuh ini yang Allah ciptakan dan sekaligus diselamatkan
Allah setelah jatuh dalam dosa. Keselamatan yang Allah berikan bukanlah
keselamatan untuk jiwanya saja, tetapi keselamatan untuk tubuhnya juga.
Manusia adalah suatu kesatuan dari tubuh dan jiwa42. Suatu kesatuan
yang utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Kalau manusia mati, ia
mati seluruhnya sebagai tubuh dan jiwa. Itu yang dikatakan oleh Alkitab
dan yang juga akan terjadi pada tiap-tiap manusia. Allah bersama-sama
manusia dalam hidupnya dan Allah juga bersama-sama dengan manusia pada
waktu manusia mati dan sesudah manusia mati43.
Jelas bahwa
manusia mati sebagai manusia dalam totalitas dirinya. Ia mati sebagai
diri yang rohani dan badani. Maka kematian badani adalah lambang yang
tepat yang menjelaskan lebih mendalam bahwa maut adalah akibat dosa dan
tidak terelakkan44. Bila dosa mengakibatkan kematian, maka Kristus
telah diutus Allah untuk menghapuskan dosa manusia sehingga di dalam
Kristus manusia didamaikan dengan Allah. Dengan jalan itu, Allah
memberikan kepada manusia kemungkinan baru untuk hidup sebagai
partnerNya45.

Kesimpulan dan Refleksi
1. Kesimpulan
Pertama, Ajaran immortalitas jiwa dapat ditemui dalam filsafat (Plato),
budaya (kepercayaan tradisionil suku Batak) dan ajaran agama
(Islam/Kristen), termasuk teolognya (Yohanes Calvin dan R.C. Sproul).
Kedua, Ilmu pengetahuan kedokteran memahami manusia sebagai satu
kesatuan tubuh, jiwa dan rohnya baik di saat hidup maupun mati.
Ketiga, Andarias Kabanga’ dengan argumentasi teologis yang kuat dan
mendasar, berkeyakinan bahwa jiwa dan tubuh manusia adalah ciptaan
Allah yang pada akhirnya mati seutuhnya. Hanya Refaimnya manusia yang
tetap ada dalam anamnesis (ingatan) Allah sampai ia dibangkitkan
kembali.
Keempat, Alkitab tidak ada menyebut sama sekali dikotomi
atau trikotomi tubuh, jiwa dan roh. Tubuh, jiwa dan roh adalah satu
kesatuan yang utuh dan bersifat fana. Totalitas atau keutuhan manusia
berlaku saat hidup, mati dan kebangkitannya dalam persekutuan dengan
Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus.

2. Refleksi
Paham
immortalitas jiwa dapat ditemui dalam filsafat, budaya dan ajaran
agama, termasuk Kekristenan. Paham immortalitas jiwa, mengakibatkan
cara memahami pesan Alkitab seperti Kejadian 1:27 ada dalam bingkai
immortalitas jiwa. Saya secara pribadi menerima dengan keyakinan iman
pandangan teologis Andarias Kabanga’ tentang keutuhan manusia baik
dalam hidup maupun matinya. Immortalitas jiwa sebagaimana filsafat
Plato, kepercayaan tradisionil suku Batak atau pandangan teologi Calvin
dan Sproul tidak dapat saya terima karena membingungkan dan menyesatkan
sebab manusia dipahami secara terpecah belah dimana jiwa/roh dinilai
mulia dan tubuh dinilai jahat. Karenanya bagi saya yang berlatar
belakang suku Batak, menjadi jelas mengapa orang Batak mengekspresikan
dukacitanya secara mendalam sewaktu meratapi mendiang sebab berakarnya
paham immortalitas jiwa..
Paham immortalitas jiwa tanpa disadari
diterima dan menjadi pemahaman pribadi di kalangan warga jemaat karena
pembacaan Alkitab secara harafiah tanpa mencari penjelasan lebih
lengkap terlebih dahulu. Selain itu, khotbah para pendeta dan
bacaan-bacaan kristen populer bukan tidak mungkin turut menyuburkan dan
menguatkan pemahaman immortalitas jiwa di kalangan warga jemaat.
Perkembangan terbaru dapat disaksikan dengan maraknya tayangan sinetron
di televisi yang menggambarkan jiwa atau roh manusia yang mengganggu
dan menuntut balas kematiannya terhadap mereka yang masih hidup. Saat
terjadi musibah, jasa paranormal sebagai medium dalam berkomunikasi
dengan jiwa-jiwa, telah dimanfaatkan untuk mencari para korban
kecelakaan pesawat terbang atau kapal laut yang tenggelam. Pasti
terjadi reaksi jika paham immortalitas jiwa hendak disebarluaskan di
kalangan warga jemaat. Perlu sikap hati-hati dan bijak sehingga tidak
terjadi gejolak hebat dikalangan warga jemaat. Pembinaan di kalangan
pendeta dan Majelis Jemaat/Gereja harus diutamakan melalui
materi-materi bina dan perangkat-perangkat Tata Gereja dan berlanjut
kepada warga jemaat.

DAFTAR PUSTAKA

Abineno, J.L. Ch. Manusia dan Sesamanya di dalam Dunia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990.
Arifin, H. Bey. Hidup Sesudah mati, Jakarta: Penerbit C.V. Kinta, 1994.
Berkhof, H. Christian Faith, An Introduction to The Study of The Faith, Michigan: Wm B. Eerdmans Publishing Company, 1979.
Berkhof, L. The History of Christian Doctrines, Pennsylvania: The Banner of Truth Trust, 1975.
Calvin, Yohanes. Institutio: Pengajaran Agama Kristen, cet. Ke-2, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985.
Douglas, J.D. et.al.,
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid II: M-Z, cet. ke-6, Terj. Yayasan
Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/ OMF,
2002.
Freedman, David N. (Ed), Eerdmans Dictionary of The Bible, Michigan:
Wm. Eerdmans Publishing Company, 2000.
Guthrie, Donald. Teologi Perjanjian Baru 1: Allah, Manusia, Kristus, Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1991.
Hadiwijono, Harun. Iman Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988.
Kabanga’,
A. Manusia Mati Seutuhnya: Suatu Kajian Antropologi Kristen, Pengantar:
Prof (Em) Dr. Sularso Sopater, Yogyakarta: Media Pressindo, 2002.
Kittel,
Gerhard & Friedrich, Gerhard. (Ed) Theological Dictionary of The
New Testament, (Michigan: Wm Eerdmans Publishing Company, 1985), hlm.
312.
Lane, Tony. Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, Terj. Conny Item-Corputy, cet. ke-3, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.
Leon-Dufour, Xavier. Ensiklopedi Perjanjian Baru, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1993.
Lumbantobing, Andar M. Makna Wibawa Jabatan dalam Gereja Batak, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.
Niebuhr, Reinhold. The Nature and Destiny of Man, A Christian Interpretation, New York: Charles Scribners Sons, 1943.
Shihab,
M. Quraish, Membumikan Al_Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan
Masyarakat, cet. ke-19, Bandung: Penerbit Mizan.
Sproul, R.C. Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen, Terj. R. Tanudjaja, Malang: Departemen Literatur SAAT, 1998.
Sumartana, Th. (ed), Ecce Homo, Jakarta: Penerbit Aurora, 1994.
van Peursen, C.A. Tubuh-jiwa-roh, suatu pengantar dalam filsafat manusia,
Terj. K. Bertens, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983.
Vriezen, Th. C. An Outline of Old Testament Theology, Oxford: Basil Blackwell 1958.

Jumat, 14 Mei 2010

Hiduplah dalam cinta kasih seperti Kristus

By nias

Cinta kasih bukan saja sebuah perintah dari Tuhan kepada umat Kristen melainkan juga merupakan sebuah hukum dasar. Dari sini umat Kristen mempunyai satu hukum kehidupan yakni hidup dalam cinta kasih seperti Kristus. Cinta kasih menjadi dasar dan ukuran dari segala perbuatan untuk menghadirkan kebaikan Allah dan cinta-Nya kepada sesama.

Yesus Kristus sendiri telah menyatakan cinta kasih Allah kepada umat manusia dengan kata-kata dan perbuatan-Nya yang nyata dan memberi daya hidup bagi yang menerimanya. Sejalan dengan itu Ia pun memerintahkan supaya umat kristiani hidup saling mengasihi, melakukan perbuatan-perbuatan kasih, bahkan mendorong supaya tidak takut berkorban demi cinta kasih seperti Ia sendiri telah perbuat. Cinta kasih bersumber dari Allah dan dikonritkan oleh Putera-Nya dalam kebersamaannya dengan orang-orang miskin. Setiap orang yang melanjutkan kasih itu dalam kehidupannya, ia lahir dari Allah dan mengenal Allah.

Atas dasar ini, Tuhan mengajak kita untuk senantiasa membangun suatu relasi kasih dengan sesama sebagaimana kita dapat membangun relasi kasih dengan Allah. Dari sebab itu pula tidak mesti ditanya lagi “mengapa kita mesti hidup saling mengasihi?” karena orang-orang Kristen bukan saja mau menyembah Allah sebagai Tuhannya tetapi juga mau menjadikan-Nya pusat hidup dan perjuangannya; tidak saja mau mengagumi perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib, melainkan pula mau meneladani karya-karya penyelamatan-Nya sebagaimana telah dinyatakan oleh putera-Nya Yesus Kristus. Orang Kristen mau hidup sebagai umat Allah yang memperhatikan bimbingan Tuhan ini “Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef 4:32).

Dalam situasi dan kondisi hidup dewasa ini memang masih relefan bila ditandaskan lagi bahwa umat Kristen akan berhasil mengasihi secara benar kalau dia mampu menghindari dirinya dari “dendam kesumat, kemarahan, dan pertikaian” (Ef 4:30-31) dan dari “cinta diri sendiri” sebab butirßbutir ini dapat menjadi penghalang dan perusak kesatuan antara manusia dengan manusia, bahkan antara manusia dengan Allah. Kasih yang benar tidak mengenal batas waktu, tempat dan orang. Kasih yang benar adalah merupakan wujud keikhlasan untuk mentaati, setia meneladani Kristus yang telah memberikan teladan cinta kasih dengan “mendokan mereka yang telah menyakitinya”, “menyembuhkan orang-orang sakit”, “menghibur orang-orang yang berduka”, “memberi makan kepada orang-orang yang lapar”.

Cinta kasih kristiani tidak tertutup dalam dirinya sendiri, melainkan terbuka untuk semua tanpa membeda-bedakan suku, daerah, warna kulit dan status sosial. Kasih kristiani mau berjumpa dengan siapa saja, bahkan dengan Tuhan sendiri. Cinta kasihlah yang memberikan kita kegembiraan dalam berbagai kegiatan pewartaan ataupun pelayanan. Cinta kasih juga memberi kita keberanian untuk mengampuni, menerima orang lain apa adanya mereka. Cinta kasih memelihara semuanya.

Mungkin Anda saat ini sedang menghadapi sebuah tantangan besar bagaimana mewujudkan cinta kasih di dalam keluarga, di lingkungan kerja atau dalam kehidupan sehari-hari? Itulah sebuah kenyataan dalam hidup bersama yang sering kali hanya bisa di atasi dengan keberanian mewujudkan “hidup dalam cinta kasih seperti Kristus sendiri” dan berdoa. Dengan sikap dan cara yang demikian maka kita dapat berharap bahwa akhirnya situasi dan kondisi hidup yang dihadapi akan menjadi baru. Semoga engkau dan aku, dan kita semua menjadi penyaksi hidup dalam cinta kasih.

P. Metodius Sarumaha, Ofm Cap.


Tiga Langka

Renungkan ilustrasi ini: Pada waktu terjadi pemberontakan di suatu daerah, sehingga daerah itu terisolasi dari pemerintah pusat, maka apa yang akan dilakukan oleh pemerintah pusat? Ada 3 langkah biasanya yang akan dilakukannya :

  1. Mengirimkan orang-orang khusus untuk menyusup ke wilayah tersebut dan membuka komunikasi, sehingga pemerintah tahu kondisi setempat. Setelah data-data dan bukti-bukti lengkap antara siapa yang berpihak kepada pemerintah dan siapa yang berpihak pada pemberontak, maka langkah kedua dilakukan.

  2. Membasmi pemberontakan itu. Setelah pemberontakan dibasmi barulah langkah ke-3 dapat dilakukan tanpa gangguan.

  3. Memulihkan kehidupan masyarakat di tempat tersebut dengan pembangunan fisik (rumah, kesehatan, transportasi, dsb).

Demikian pulalah yang dilakukan oleh Allah ketika terjadi pemberontakan oleh setan di bumi ini. Ada 3 langkah yang dilakukan Allah :

Langkah Pertama: Mengirim putra-Nya ke bumi untuk membuka sarana komunikasi yang selama ini terhambat akibat dosa Adam. Apa prinsip ayatnya?

  • 2 Samuel 14:14, "Sebab kita pasti mati, kita seperti air yang tercurah ke bumi, yang tidak terkumpulkan. Tetapi Allah tidak mengambil nyawa orang, melainkan Ia merancang supaya seorang yang terbuang jangan tinggal terbuang dari pada-Nya."

  • Perhatikan!! Kata "Kita pasti mati (karena kita tidak sempurna); ... Ia merancang supaya seorang yang terbuang supaya jangan tinggal terbuang dari pada-Nya (kedudukan kita sebenarnya sudah terbuang/terputus dari Allah akibat dosa Adam akan tetapi apa yang Allah rencanakan agar kita tidak tinggal terbuang dari padanya? Yaitu dengan mengirim putra-Nya ke bumi agar kita bisa didapati layak di hadapannya melalui korban tebusan putra-Nya.)

  • Yohanes 14:6, "Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

  • Perhatikan!! Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan komunikasi kita dengan Allah telah terputus, akan tetapi dengan adanya Yesus Kristus, hubungan komunikasi kita dapat tersambung lagi. Kita dapat datang kepada Allah melalui Yesus.

    Dan bukan hanya membuka sarana komunikasi yang terputus, tapi Yesus juga akan melakukan pemisahan antara yang berpihak pada Allah dan Setan.

  • Matius 25: 31-32, "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas tahta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing."

  • Perhatikan!! Siapa yang dimaksud dengan anak manusia? Yesus bukan? Dan apa yang akan dilakukannya? Memisahkan orang-orang yang berpihak pada Allah (bersifat seperti domba) dan yang berpihak pada Setan (bersifat seperti kambing).

Itulah sebabnya, walaupun Yesus telah menebus kita, kita masih dikungkung oleh ketidak sempurnaan dan lingkungan yang tidak mendukung. Karena saat ini, Yesus sedang melakukan langkah pertama, yaitu memulihkan hubungan kita dengan Allah dan injil kerajaan ini disampaikan kepada orang-orang untuk dapat menentukan siapa yang mau menerima atau tidak. Baru langkah ke-2 akan dilaksanakan.

Langkah Kedua: Membinasakan Pemberontakan setan itu di Armagedon

  • Wahyu 16: 14&16, "Itulah roh-roh setan yang mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib, dan mereka pergi mendapakan raja-raja di seluruh dunia, untuk mengumpulkan mereka guna peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa. Lalu ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani di sebut Harmagedon. (Atau dalam istilah yang lebih dikenal umum ialah "kiamat".) Siapa yang akan memimpin?

  • Wahyu 19: 13-14, "Dan ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman Allah". Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti dia; mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih. Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa. Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: "Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan."

  • Perhatikan!! Kata "Nama-Nya ialah "Firman Allah" (Yohanes 1: 14 menunjuk kepada Yesus); "Raja segala raja dan Tuan di atas segala Tuan" (Wahyu 17: 14 menunjuk kepada "Anak Domba" dan ini tidak lain adalah Yesus Kristus); Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti dia (ini menunjukkan bahwa Yesuslah yang akan memimpin pemusnahan dari pemberontak setan)

  • Mazmur 37: 9, "Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.

Langkah Ketiga

Memulihkan kehidupan umatnya di bumi firdaus. Langkah ini baru dapat dilaksanakan secara fisik, karena Setan si Iblis dan pengikutnya telah dibinasakan sehingga tidak mengganggu lagi.

  • Matius 6: 9-10, "Kondisi di bumi akan sama seperti di sorga."
  • Yesaya 35: 5&6, "Orang buta dan timpang dapat melihat dan berjalan dengan normal."
  • Yesaya 33: 24, "tidak ada penghuni yang akan mengatakan aku sakit."
  • Yohanes 5: 28-29, "Adanya harapan kebangkitan bagi orang-orang yang kita kasihi."

Kamis, 13 Mei 2010

PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN DALAM AJARAN TUHAN YESUS KRISTUS

Image
Surat Kabar sering menempatkan gambar kartun di tempat yang menarik perhatian pembaca, yaitu di halaman editorial. Seniman menggoreskan garis-garis sederhana untuk membuat karikatur tentang situasi politik, sosial, atau ekonomi yang sedang kita hadapi. Melalui karikatur tersebut, ia dapat menyampaikan pesan yang begitu tajam dan tepat mengenai sasaran. Ketajaman dan ketepatan karikatur itu tidak dapat ditandingi oleh kefasihan bahasa seorang ahli bahasa.

Yesus melukiskan gambaran verbal tentang dunia di sekitarnya melalui perumpamaan-perumpamaan. Ia mengajar dengan menggunakan perumpamaan untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan nyata. Dia menggunakan sebuah cerita yang diambil dari kehidupan sehari-hari. Ia mengajarkan pengajaran baru dengan menggunakan cerita tentang keadaan yang sudah dikenal dan diterima oleh pendengar-Nya. Pengajaran itu seringkali muncul di akhir cerita dan mempunyai pengertian yang dalam sehingga membutuhkan waktu untuk memahaminya. Ketika pendengar mendengar sebuah perumpamaan, ia akan menyetujuinya karen a cerita itu biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan ia dapat mengerti segala suatu yang diutarakan dalam perumpamaan terebut. Sedangkan yang berkaitan dengan aplikasi dari perumpamaan itu, sekalipun bisa didengar, tetapi aplikasinya tidak selalu dapat dimengerti. Kita dapat memahami suatu cerita yang dibeberkan kepada kita, tetapi kita bisa saja tidak dapat menangkap signifikansi dari cerita itu. [1] Kebenaran tetap tersembunyi sampai mata kita dibukakan dan dapat melihat dengan jelas. Pada sa at itu barulah pengajaran yang baru dari perumpamaan itu akan menjadi berarti. Hal itu dikatakan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya, "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan" (Markus 4:11).



Bentuk-bentuk Perumpamaan


Kata perumpamaan dalam Perjanjian Baru mempunyai konotasi yang luas, termasuk bentuk-bentuk perumpamaan yang secara umum dibagi ke dalam tiga kategori. [2] Ada perumpamaan-perumpamaan yang berupa kisah nyata, perumpamaan-perumpamaan yang berupa cerita dan ilustrasi.


1. Perumpamaan-perumpamaan berupa kisah nyata. Perumpamaan-perumpamaan ini menggunakan ilustrasi dari kehidupan sehari-hari yang sudah dikenal oleh para pendengar. Setiap orang mengakui kebenaran dari kisah itu, sehingga tidak ada dasar bagi para pendengar untuk mengajukan keberatan dan kritik. Semua orang telah melihat bahwa benih tumbuh dengan sendirinya (Markus 4:26-29); ragi mengkhamirkan seluruh adonan (Matius 13:33); anak-anak bermain di pasar (Matius 11:16-19; Lukas 7:31, 32); seekor domba yang meninggalkan kumpulannya (Matius 18:12-14); dan seorang wanita yang kehilangan dirham di rumahnya (Lukas 15:8-10). Perumpamaan-perumpamaan ini dan banyak perumpamaan yang lain bertitik-tolak dari gambaran kehidupan manusia maupun alam yang memang demikian pada kenyataannya. Perumpamaan-perumpamaan itu biasanya berkaitan dengan apa yang terjadi pada masa kini.

2.Perumpamaan-perumpamaan berupa cerita. Berbeda dari perumpamaan berupa kisah nyata, perumpamaan ini tidak berdasarkan pada kenyataan atau tata cara yang sudah diterima secara umum. Perumpamaan berupa kisah nyata dipaparkan sebagai kisah nyata yang sedang terjadi, sedangkan perumpamaan berupa cerita menunjuk pada suatu peristiwa yang terjadi di masa lampau. Biasanya berkenaan dengan pen gala man seseorang. Matius 13:24-30 menjelaskan pengalaman dari seorang petani yang menabur gandum dan kemudian mengetahui bahwa musuhnya telah menabur lalang di tempat yang sama. Lukas 16:1-9 menceritakan seorang kaya yang memiliki manajer yang telah menyia-nyiakan hartanya. Lukas 18:1-8 mencatat ten tang seorang hakim yang menjalankan keadilan setelah mendengarkan permohonan yang terus menerus dari seorang janda. Kehistorisan dari cerita-cerita ini tidak dipermasalahkan, karena yang penting bukan apakah peristiwa itu benar-benar terjadi atau tidak, tetapi yang penting adalah kebenaran yang terkandung di dalam cerita itu.

3. Ilustrasi. Cerita-cerita ilustrasi yang muncul di Injil Lukas biasanya dikategorikan sebagai cerita-cerita contoh. Perumpamaan orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30-37); perumpamaan orang kaya yang bodoh (Lukas 12:16-21); perumpamaan orang kay a dan Lazarus (Lukas 16:19-31); dan perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai (Lukas 18:9-14) termasuk dalam kategori ini. Pola dari ilustrasi-ilustrasi tersebut berbeda dari perumpamaan berupa cerita. Perumpamaan berupa cerita merupakan sebuah analogi, sedangkan ilustrasi memperlihatkan contoh-contoh yang harus ditiru atau yang harus dihindari. Ilustrasi langsung dipusatkan pada karakter dan tingkah laku seseorang, sedangkan perumpamaan berupa cerita juga melakukan hal itu hanya tidak secara langsung.


Mengkategorikan perumpamaan bukan merupakan hal yang sederhana. Beberapa perumpamaan menunjukkan karakteristik dari dua kategori, yaitu perumpamaan berupa kisah nyata dan perumpamaan berupa cerita, sehingga dimungkinkan untuk dimasukkan ke dalam kedua kategori di atas. Injil juga berisi banyak perkataan-perkataan parabol. Sulit untuk menentukan secara tepat bagian mana dari perkataan Yesus yang termasuk kategori perumpamaan berupa kisah nyata dan bagian yang mana merupakan perkataan parabola. Pengajaran Yesus tentang ragi (Lukas 13:20,21) diklasifikasikan sebagai perumpamaan berupa kisah nyata, tetapi pengajaran-Nya yang lebih panjang tentang garam (Lukas 14:34, 35) disebut sebagai perkataan parabol. Selain itu ada beberapa perkataan Yesus dinyatakan sebagai perumpamaan. Contohnya, "Yesus menceritakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: " Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?" (Lukas 6:39).

Apakah perbedaan perumpamaan dengan alegori? John Bunyan dalam bukunya Pilgrim's Progress memberikan sebuah alegori ten tang perjalanan hidup orang Kristen. Nama-nama dan peristiwa-peristiwa di dalam buku itu adalah pengganti dari siapa dan apa yang ada dalam kenyataan. Setiap fakta, gambaran, dan nama adalah simbolis, dan harus diterjemahkan bagian demi bagian ke dalam kehidupan nyata supaya bisa dimengerti dengan benar. Sedangkan, sebuah perumpamaan benar terjadi dalam kehidupan dan umumnya mengajarkan hanya satu prinsip kebenaran. Dalam perumpamaan, Yesus menggunakan banyak gaya bahasa metafora, misalnya raja, hamba, perawan. Kata-kata metafora itu tidak pernah terlepas dari realita atau tidak pernah berhubungan dengan dunia fantasi atau fiksi. Cerita-cerita dan contoh-contoh itu diambil dari dunia di mana Yesus hidup. Perumpamaan diceritakan untuk menyampaikan kebenaran rohani dengan memakai satu bagian dari perumpamaan itu sebagai bahan perbandingan. Rincian dari cerita mendukung berita yang terkandung dalam perumpamaan yang disampaikan. Perumpamaan-perumpamaan tidak boleh dianalisa bagian demi bagian dan ditafsirkan secara alegoris, sebab hal itu akan mengakibatkan hilangnya signifikansi dari perumpamaan itu.



Komposisi


Meskipun secara umum benar bahwa sebuah perumpamaan mengajarkan hanya satu prinsip kebenaran, namun peraturan ini jangan ditekankan terlalu jauh. Beberapa perumpamaan Yesus mempunyai komposisi yang kompleks. Perumpamaan tentang penabur merupakan satu komposisi yang terdiri dari empat bagian, dan masing-masing bagian memerlukan sebuah penafsiran. Demikian juga, perumpamaan tentang pesta pernikahan bukan merupakan cerita tunggal, tetapi mempunyai bagian tambahan tentang seorang tamu yang tidak memakai pakaian pesta yang selayaknya. Dan kesimpulan dari perumpamaan tentang penyewa beralih dari perumpamaan kebun anggur ke perumpamaan tentang pembangunan. Kesadaran akan adanya kekompleksan ini, maka seorang pengeksegesis yang bijaksana tidak akan memaksakan untuk memakai metode penafsiran satu prinsip kebenaran.

Pada waktu kita membaca perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus, kita dapat bertanya mengapa banyak rincian yang seharusnya menjadi bagian dari cerita itu yang tidak diceritakan. Contohnya, dalam kisah ten tang seorang ternan yang mengetuk pintu tetangganya di tengah malam meminta tiga ketul roti, istri tetangga itu tidak disebutkan. Dalam perumpamaan tentang anak yang hilang, ayahnya adalah tokoh utama dalam kisah ini, tetapi tidak satu kata pun menyebutkan ten tang ibunya. Perumpamaan tentang sepuluh gadis hanya menyebutkan pengantin laki-laki, dan sarna sekali tidak menyebut tentang pengantin perempuan. Rupanya rincian-rincian ini tidak relevan untuk komposisi yang biasa digunakan dalam perumpamaan Yesus, khususnya jika kita mengerti gaya bahasa tiga serangkai yang sering digunakan di dalam perumpamaan Yesus. Di dalam perumpamaan tentang teman di tengah malam, terdapat tiga karakter: musafir, teman dan tetangga. Perumpamaan anak yang hilang juga terdiri dari tiga orang: ayah, anak bungsu, anak sulung. Dan dalam kisah sepuluh gadis terdapat tiga elemen: lima gadis bijaksana, lima gadis bodoh dan pengantin laki-laki.

Selain itu, di dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus yang penting bukan awal cerita tetapi akhir cerita. Penekanannya jatuh pada orang, perbuatan dan perkataan yang terakhir disebutkan. Sebutan "tekanan terakhir" di dalam perumpamaan adalah sebuah pola yang sengaja dibuat di dalam komposisinya[3]. Orang yang terluka itu bukan dibantu oleh ahli Taurat atau orang Lewi, tetapi oleh orang Samaria. Meskipun hamba yang mendapatkan tambahan lima talenta dan hamba yang menghadiahkan dua talenta kepada tuannya menerima pujian dan rekomendasi, tekanan dari kisah ini adalah pada perbuatan hamba yang menguburkan talenta satu-satunya di dalam tanah yang menyebabkan dia mendapatkan murka dan hukuman. Dan di dalam perumpamaan pemilik tanah yang sepanjang hari mempekerjakan orang-orang di kebun anggurnya dan pada pukul enam dia mendengar keluhan dari beberapa pekerja, penekanan yang penting adalah jawaban pemilik tanah: "Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau ... Atau iri hatikah engkau, karen aku murah hati?" (Matius 20:13, 15).

Seni menyusun dan menceritakan perumpamaan yang didemonstrasikan oleh Yesus tidak ditemukan persamaannya di dalam literatur. Perumpamaan yang mirip dengan perumpamaan Yesus yaitu perumpamaan rabi-rabi kuno di abad pertama dan kedua pada zaman kekristenan. Perumpamaan-perumpamaan rabinik biasanya diperkenalkan dengan formula sebagai berikut: "Sebuah perumpamaan: hal ini dapat diumpamakan sebagai?" Juga, dalam beberapa perumpamaan alat-alat literatur yang digunakan adalah tiga serangkai dan tekanan akhir. Contohnya:

Sebuah perumpamaan: hal ini dapat diumpamakan sebagai? Ada seorang pria yang sedang mengadakan perjalanan dan dia bertemu dengan seek or serigala dan dia berhasil melarikan diri dari serigala itu, dan dia melanjutkan perjalanan sambil terus mengingat pen gala man dia bersama serigala itu. Kemudian dia bertemu dengan seekor singa dan berhasil lolos dari singa itu, dan dia melanjutkan perjalanan sambil terus mengingat pengalaman dia dengan singa itu. Kemudian dia bertemu dengan seekor ular dan berhasil lolos dari ular itu, dan dia melupakan dua peristiwa sebelumnya dan dia melanjutkan perjalanan dengan hanya mengingat pengalamannya dengan ular itu. Demikian pula halnya dengan bangsa Israel: kesulitan yang yang terjadi kemudian membuat mereka melupakan kesulitan-kesulitan sebelumnya.[4]

Namun demikian, kemiripan antara perumpamaan Yesus dan perumpamaan rabi hanya bersifat formal. Perumpamaan rabinik biasanya diperkenalkan untuk menjelaskan Hukum Taurat, ayat-ayat Alkitab atau sebuah doktrin. Perumpamaan-perumpamaan rabi tidak digunakan untuk mengajarkan kebenaran-kebenaran baru seperti perumpamaan Yesus. Yes us memakai perumpamaan untuk menjelaskan tema besar dari pengajaran-Nya: Kerajaan Surga; kasih; anugerah; dan kemurahan Allah; pemerintahan dan kedatangan kembali Anak Allah; keberadaan dan akhir nasib dari manusia.[5] Perumpamaan-perumpamaan rabi tidak mengajarkan sesuatu di luar aplikasi Hukum Taurat, sedangkan perumpamaan Yesus merupakan bagian dari wahyu Allah untuk manusia. Di dalam perumpamaan-perumpamaan-Nya Yesus mewahyukan kebenaran-kebenaran baru, karena Dia diperintahkan Allah untuk menyatakan kehendak dan Firman Allah. Oleh karena itu, perumpamaan-perumpamaan Yesus adalah wahyu Allah, sedangkan perumpamaan-perumpamaan rabi bukan wahyu Allah.



Tujuan


Perumpamaan-perumpamaan Yesus menunjukkan bahwa Yesus sepenuhnya mengenal keragaman seluk beluk kehidupan manusia. Dia mempunyai pengetahuan ten tang pertanian, menabur benih, mendeteksi lalang dan penuaian. Dia sangat mengenal tentang seluk beluk kebun anggur, sehingga Dia mengetahui saat memetik buah anggur dan buah ara, dan mengetahui upah yang harus dibayar untuk sehari bekerja. Dia bukan hanya mengenal kehidupan sehari-hari petani, nelayan, tukang bangunan, dan pedagang, tetapi Dia juga sangat mengenal seluk-beluk pengelola perumahan, menteri-menteri keuangan di pengadilan kerajaan, hakim di pengadilan hukum, orang-orang Farisi, dan para pemungut cukai. Dia mengerti kemiskinan Lazarus, namun demikian Dia juga diundang untuk makan malam bersama orang kaya. Perumpamaan-Nya menggambarkan kehidupan kaum lelaki, wanita dan anak-anak, miskin dan kaya, yang terbuang dan yang terhormat. Karena pengenalan-Nya yang luas akan kehidupan manusia, maka Dia dapat me lay ani semua strata so sial. Dia berbicara sesuai dengan bahasa mereka dan mengajar sesuai dengan keberadaan mereka. Yesus menggunakan perumpamaan-perumpamaan supaya pesan-Nya dapat diterima oleh para pendengar. Ia juga menggunakannya untuk mengajar Firman Tuhan kepada orang banyak, untuk memanggil pendengar-Nya bertobat dan beriman, untuk menan tang orang-orang percaya supaya mempraktekkan perkataan mereka di dalam perbuatan, dan untuk mengingatkan pengikut-Nya supaya waspada.

Yesus mengajarkan perumpamaan untuk mengkomunikasikan pesan keselamatan dengan cara yang jelas dan sederhana. Pendengar-Nya dapat mengerti dengan mudah kisah tentang anak yang hilang, dua orang yang mempunyai hutang, perjamuan makan yang besar, serta kisah tentang orang Farisi dan pemungut cukai. Di dalam perumpamaan, mereka bertemu Yesus sebagai Kristus, yang mengajar dengan otoritas tentang berita penebusan Allah yang didasarkan pada kasih-Nya.

Dari catatan Injil, kelihatannya penafsiran terhadap perumpamaan-perumpamaan itu hanya diberikan kepada murid-murid Yesus. Yesus berkata kepada mereka, "Rahasia Kerajaan Allah telah diberikan kepadamu. Tetapi untuk orang luar segala sesuatu disampaikan dalam bentuk perumpamaan supaya,

Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, Sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti,
Supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun!"
(Markus 4:11,12).

Apakah ini berarti bahwa Yesus yang diutus oleh Allah untuk memberitakan pembebasan bagi orang berdosa yang telah jatuh, menyembunyikan pesan ini dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan yang tidak dapat dipahami? Apakah perumpamaan-perumpamaan itu semacam teka-teki yang dimengerti hanya oleh mereka yang dipilih?

Kata-kata di dalam Injil Markus 4:11, 12 perlu dimengerti dalam konteks yang lebih luas sesuai dengan maksud dari penulis[6]. Di dalam bab sebelumnya, Markus menjelaskan ten tang pertemuan Yesus dengan orang-orang yang secara terang-terangan tidak percaya dan melawan Dia. Dia dituduh kerasukan Beelzebul dan Dia mengusir setan dengan kuasa dari penghulu setan (Markus 3:22). Yesus mengkontraskan an tara orang-orang percaya dan orang-orang tidak percaya, an tara pengikut dan penentang, an tara penerima dan penolak dari wahyu Allah. Mereka yang melakukan kehendak Allah menerima berita dari perumpamaan-perumpamaan itu, karena mereka masuk di dalam keluarga Yesus (Markus 3:35). Mereka yang berusaha untuk menghancurkan Yesus (Mrk 3:6) telah mengeraskan hatinya terhadap pengetahuan akan keselamatan. Hal ini merupakan masalah iman dan ketidak-percayaan. Orang-orang percaya mendengar perumpamaan, dan menerimanya dengan iman dan mengerti, meskipun pemahaman mereka secara penuh terjadi melalui sebuah proses. Orang-orang tidak percaya menolak perumpamaan karena bertentangan dengan pemikiran mereka[7]. Mereka menolak menangkap dan mengerti kebenaran Allah. Oleh karena mata mereka yang buta dan telinga mereka yang tuli, mereka menarik diri dari keselamatan yang Yesus beritakan, dan membawa diri mereka ke bawah penghukuman Allah.

Tidak mengherankan kalau pada mulanya murid-murid Yesus tidak mengerti sepenuhnya perumpamaan tentang penabur (Markus 4:13). Pengikut-pengikut-Nya yang dekat dibingungkan oleh pengajaran perumpamaan ini karena mereka belum melihat signifikansi pribadi dan pelayanan Yesus dalam hubungannya dengan kebenaran Allah yang dinyatakan melalui perumpamaan. Hanya karen a iman mereka dapat melihat kebenaran yang disaksikan oleh perumpamaan-perumpamaan itu[8]. Yesus memberikan penafsiran yang komprehensif untuk perumpamaan ten tang penabur dan perumpamaan gandum dan lalang. (Di bagian lain Dia kadang-kadang menambahkan klarifikasi dalam kesimpulan.) Murid-murid diberikan penjelasan tentang hubungan an tara kejadian-kejadian yang digambar kan oleh Yesus dalam perumpamaan seorang penabur dengan perumpamaan tentang Kerajaan Surga yang datang dalam pribadi Yesus, sang Mesias[9].



Penafsiran


Di gereja mula-mula, bapak-bapak gereja mulai mencari arti yang tersembunyi dari kedatangan Yesus di kitab sud Perjanjian Lama. Sebagai konsekuensi logis dari trend di atas, bapak-bapak gereja mulai menemukan arti tersembunyi di dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus. Mungkin mereka dipengaruhi oleh apologetika orang-orang Yahudi dalam hal mengganti kesederhanaan Alkitab dengan spekulasi-spekulasi yang kabur. Dalam beberapa kejadian, hasil penafsiran terhadap perumpamaan-perumpamaan itu bersifat alegoris. Sehingga dari zaman bapak-bapak gereja sampai pertengahan abad ke sembilan belas, kebanyakan pengeksegesis menafsirkan perumpamaan secara alegoris.
Contohnya, Origen percaya bahwa perumpamaan tentang sepuluh gadis dipenuhi dengan simbol-simbol yang tersembunyi. Origen mengatakan bahwa semua gadis-gadis itu adalah orang-orang yang telah menerima Firman Allah. Gadis-gadis yang bijaksana percaya dan hidup di dalam kehidupan yang benar; gadis-gadis yang bodoh juga percaya tetapi tidak hidup berdasarkan kepercayaannya. Lima lampu darigadis yang bijaksana melambangkan lima pancaindra yang kesemuanya dipelihara untuk penggunaan yang tepat. Lima lampu dari gadis yang bodoh gagal memberikan terang dan keluar menuju kegelapan dunia. Minyak melambangkan pengajaran firman Tuhan, dan penjual minyak itu melambangkan guru. Harga min yak yang mereka minta itu adalah ketekunan. Tengah malam adalah lambang kelalaian. Tangisan kerasberasal dari malaikat-malaikat yang membangunkan semua manusia. Dan pengantin laki-laki adalah Kristus yang datang menemui pengantin perempuan yaitu gereja. Demikianlah Origen menafsirkan perumpamaan tersebut.

Para komentator abad ke sembilan belas masih mengidentifikasi rincian secara individu dari sebuah perumpamaan. Dalam perumpamaan sepuluh gadis, lampu yang menyala melambangkan pekerjaan baik dan minyak melambangkan iman orang percaya. Komentator lain melihat minyak sebagai simbol yang merepresentasikan Roh Kudus.

Namun tidak semua pengeksegesis perumpamaan mengambil jalur alegoris. Pada zaman reformasi, Martin Luthermencoba mengubah arah penafsiran Alkitab. Dia memilih metode eksegesis alkitabiah yang memperhitungkan latar belakang historis dan struktur gramatikal dari sebuah perumpamaan. John Calvin lebih tegas dalam sikapnya terhadap penafsiran secara alegoris. Dia sarna sekali menghindari penafsiran perumpamaan secara alegoris, dan dalam penafsiran dia secara langsung berusaha untuk mencari pokok utama dari pengajaran perumpamaan itu. Bila dia sudah mengetahui dengan pasti arti dari perumpamaan itu, dia tidak peduli dengan rincian-rinciannya. Calvin berpendapat bahwa rincian tidak ada kaitannya dengan tujuan pengajaran Yesus dalam perumpamaan yang diberikan-Nya.

Setelah pertengahan abad ke sembilan belas, C.E. van Koetsveld, seorang sarjana Belanda, memberikan dorongan untuk pendekatan yang diprakarsai oleh para reformis. Dia menjelaskan bahwa penafsiran sebuah perumpamaan secara alegoris yang berlebihan dari beberapa komentator cenderung mengaburkan dan bukan memperjelas pengajaran Yesus[10]. Seorang pengeksegesis, untuk bisa menafsirkan sebuah perumpamaan dengan tepat, harus memegang arti dasarnya dan bisa membedakan antara mana yang dianggap esensial dan mana yang tidak. Van Koetsveld dilanjutkan oleh seorang teolog Jerman A. Jülicher di dalam pendekatannya terhadap perumpamaan-perumpamaan itu. Jiilicher menyatakan bahwa istilah perumpamaan seringkali digunakan oleh para penginjil, namun kata alegori tidak pernah ditemukan di dalam catatan Injil mereka[11].

Di akhir abad ke sembilan bel as, belenggu alegoris yang mengikat penafsiran perumpamaan dipatahkan dan sebuah era baru dalam penelitian perumpamaan muncul[12]. Jülicher melihat Yesus sebagai guru dari prinsip-prinsip moral, C.H. Dodd memandang Yesus sebagai pribadi historis yang dinamis yang dengan pengajaran-Nya menimbulkan masa krisis. Dodd mengatakan, "Tugas seorang pengeksegesis perumpamaan, kalau ia dapat, adalah menemukan latar belakang sebuah perumpamaan di dalam situasi yang dimaksudkan oleh Injil"[13]. Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Allah, Anak manusia, pengadilan, berkat telah memasuki situasi historis pada waktu itu. Menurut Dodd, kerajaan itu bagi Yesus berarti pemerintahan Allah yang ditunjukkan di dalam pelayanan-Nya. Karena itu, perumpamaan-perumpamaan yang diajarkan oleh Yesus harus dimengerti memiliki hubungan langsung dengan situasi nyata berkaitan dengan pemerintahan Allah di dunia.

J. Jeremias melanjutkan karya Dodd. Dia juga mengharapkan bisa menemukan pengajaran parabolik yang kembali kepada Yesus sendiri. Tetapi, Jeremias mulai mencatat perkembangan historis dari perumpamaan-perumpamaan itu, dan dia percaya terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama menyinggung situasi nyata dari pelayanan Yesus, dan tahap yang kedua adalah refleksi dari cara perumpamaan-perumpamaan itu digunakan oleh gereja Kristen mula-mula. Tugas Jeremias sendiri adalah menggali kembali ben tuk asli dari perumpamaan-perumpamaan itu supaya dapat mendengar suara Yesus[14]. Dengan pengetahuannya yang mendalam ten tang tanah, kebudayaan, adat, bangsa, dan bahasa Israel, Jeremias dapat mengumpulkan kekayaan informasi dan menjadikan karyanya sebagai salah satu buku perumpamaan yang paling berpengaruh.
Meskipun begitu, pertanyaan yang dapat diajukan adalah apakah bentuk aslinya dapat dipisahkan dari konteks historis tanpa jatuh pada penebakan. Sebaliknya, seseorang bisa juga mengambil sebuah teks tentang perumpamaan dan menerimanya sebagai presentasi yang benar dari pengajaran Yesus, yaitu teks Alkitab yang telah diberikan oleh para penginjil kepada kita yang merefleksikan konteks historis dari asal mula perumpamaan-perumpamaan itu diajarkan. Kita harus bergantung kepada teks yang telah kita terima, dan kita menerima perumpamaan-perumpamaan itu beserta latar belakang historisnya. Hal ini memang menuntut suatu kepercayaan, yaitu bahwa para penginjil di dalam mencatat perumpamaan-perumpamaan itu memahami tujuan Yesus mengajarkan perumpamaan-perumpamaan itu sesuai latar belakang yang mereka uraikan[15]. Pada saat perumpamaan-perumpamaan itu dicatat, saksi mata dan pelayan-pelayan Firman meneruskan tradisi lisan dari kata-kata dan perbuatan Yesus (Lukas 1:1, 2). Sehubungan dengan saksi mata inilah, kita bisa diyakinkan bahwa konteks di mana perumpamaan-perumpamaan itu dituliskan menunjuk kepada waktu, tempat, keadaan pada saat Yesus pertama kali mengajarkan perumpamaan-perumpamaan itu.

Akhir-akhir ini, wakil-wakil dari sebuah sekolah hermeneutik yang baru secara bertahap semakin mengeluarkan perumpamaan-perumpamaan itu dari latar belakang historisnya ke penekanan literatur yang lebih luas yang berkisar pada struktur eksistensialnya[16]. Para sarjana itu memperlakukan perumpamaan-perumpamaan itu sebagai literatur eksistensial, dengan cara mengeluarkan perumpamaan-perumpamaan itu dari konteks historisnya dan mengganti arti aslinya dengan pesan zaman sekarang. Mereka menyangkal bahwa arti dari sebuah perumpamaan dapat ditemukan di dalam kehidupan dan pelayanan Yesus[17]. Mereka tidak tertarik kepada sumber dan latar belakang perumpamaan itu, tetapi lebih tertarik kepada bentuk literatur dan penafsiran eksistensialnya[18]. Bagi mereka struktur literatur dari perumpamaan itu penting karena struktur itu membawa manusia modern kepada momen keputusan, di mana dia harus menerima atau menolak tantangan yang ada di hadapannya.

Telah disetujui bahwa perumpamaan-perumpamaan itu mengajak manusia untuk bertindak. Pada bagian aplikasi dari perumpamaan orang Samaria yang baik hati, ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus diperintahkan, "Pergi dan perbuatlah demikian" (Luk 10:37). Meskipun demikian, eksistensialis di dalam menafsirkan perumpamaan itu mementingkan bentuk imperatif dan mengabaikan bentuk indikatif dari perumpamaan itu. Dia memisahkan perkataan Yesus dari latar belakang budayanya sehingga menghilangkan kuasa dan otoritas yang diberikan oleh Yesus dalam perumpamaan-perumpamaan itu.

Lagipula, oleh karena eksistensialis hanya melihat struktur literatur dari perumpamaan itu dan memisahkan perumpamaan itu dari konteks historisnya, maka eksistensialis harus memberikan konteks baru kepada perumpamaan-perumpamaan itu. Jadi dia menempatkan perumpamaan-perumpamaan itu di dalam konteks zaman sekarang. Metode ini tidak dapat disebut eksegesis, karena filsafat eksistensial dimasukkan ke dalam teks Alkitab. Ini adalah eisegesis bukan eksegesis. Sayangnya, orang Kristen awam yang mencari bimbingan ke wakil-wakil sekolah hermeneutik baru untuk memahami perumpamaan-perumpamaan ini pertama-tama harus belajar filsafat eksistensial, teologi neoliberal dan gaya bahasa literatur ten tang strukturialisme sebelum dia mendapatkan keuntungan dari pandangan mereka.



Prinsip-prinsip


Menafsirkan perumpamaan tidak memerlukan latihan teologi dan filsafat yang mendalam. Pengeksegesis harus memahami beberapa prinsip dasar penafsiran. Prinsip-prinsip tersebut berhubungan dengan sejarah, tata bahasa, dan teologi teks Alkitab. Sedapat mungkin pengeksegesis hams belajar konteks historis dari perumpamaan. Studi ini meliputi analisa rind dari keadaan religius, sosial, politik dan geografis yang dinyatakan dalam perumpamaan. Misalnya, latar belakang perumpamaan orang Samaria yang baik hati menuntut pengenalan ten tang peraturan religius bagi seorang rohaniwan pada waktu itu. Seorang ahli Taurat datang kepada Yesus menanyakan apa yang harus dia lakukan untuk mewarisi kehidupan kekal, cetus an percakapan ini yang menimbulkan kisah orang Samaria yang baik hati.

Berkenaan dengan perumpamaan orang Samaria yang baik hati, pengeksegesis seharusnya memahami asal, status dan agama orang Samaria tersebut; fungsi, kantor, dan tempat tinggal ahli Taurat dan orang Lewi; topografi wilayah antara Yerusalem dan Yerikho; konsep orang Yahudi tentang hidup bertetangga. Dengan memperhatikan konteks historis perumpamaan itu, pengeksegesis bisa melihat alasan Yesus mengajarkan cerita-Nya dan dia mempelajari tujuan pengajaran Yesus yang terkandung dalam perumpamaan itu[19].

Kedua, pengeksegesis harus memberi perhatian kepada literatur dan susunan gramatikal dari perumpamaan itu. Bentuk dan tensa yang dipakai oleh penulis Injil itu sangatlah penting, karen a akan memberi penerang atas pengajaran pokok dari kisah tersebut. Studi kata d alam konteks Alkitab maupun dalam penulisan ekstra kanonikal merupakan bagian yang penting dalam proses menafsirkan perumpamaan. Jadi, studi kata sesama di dalam konteks perintah, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri," seperti diberikan di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, terbukti menjadi studi yang bermanfaat. Pengeksegesis juga perlu untuk melihat pendahuluan dan kesimpulan dari perumpamaan itu, karena keduanya mungkin berisi bagian literatur seperti pertanyaan retorik, nasihat, atau sebuah perintah. Perumpamaan orang Samaria yang baik hati disimpulkan dengan sebuah perintah,"Pergi dan perbuatlah demikian" (Lukas 10:37). Ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus tentang mewarisi kehidupan kekal tidak bisa lari dari perintah untuk mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Pendahuluan, dan khususnya kesimpulan, berisi tuntunan yang membantu pengeksegesis dalam menemukan bagian pokok dari perumpamaan itu.

Ketiga, bagian pokok dari perumpamaan yang diberikan harus diperiksa secara teologis berdasarkan seluruh pengajaran Yesus dan seluruh Kitab Suci[20]. Bila pengajaran dasar perumpamaan itu telah digali secara penuh dan dimengerti secara benar, kesatuan Kitab Sud terekspresikan, arti yang tepat dari perikop itu dapat dikembangkan dalam semua kesederhanaan dan kejelasannya.

Akhirnya, penafsir perumpamaan harus menerjemahkan artinya ke dalam istilah-istilah yang relevan dengan kebutuhan sekarang. Tugasnya adalah untuk mengaplikasikan pengajaran pokok sebuah perumpamaan ke dalam situasi kehidupan dari orang yang mendengar penafsirannya. Dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati, perintah untuk mengasihi sesamanya menjadi berarti ketika orang yang dirampok dan terluka sepanjang jalan Yerikho bulan lagi hanya sebagai sebuah gambaran di masa lampau. Sesama yang perlu dikasihi oleh kita adalah para tunawisma, orang miskin, dan pengungsi. Mereka bertemu dengan kita di jalan Yerikho yang dimuat di dalam surat kabar setiap hari dan dalam acara berita malam di TV.



Klasifikasi


Perumpamaan-perumpamaan Yesus dapat dikelompokkan dan diklasifikasikan dalam banyak cara. Perumpamaan tentang penabur, benih yang tumbuh dengan tersembunyi, gandum dan lalang, pohon ara yang tidak berbuah, pohon ara yang berserni termasuk ke dalam perumpamaan natur. Beberapa perumpamaan yang Yesus ceritakan berhubungan dengan pekerjaan dan upah. Beberapa di antaranya adalah perumpamaan pekerja di kebun anggur, penyewa, dan bendahara yang tidak jujur. Perumpamaan yang lain bertemakan pernikahan, dan perayaan-perayaan. Termasuk ke dalamnya adalah perumpamaan tentang anak-anak yang bermain di pasar, sepuluh gadis, perjamuan besar dan pesta perkawinan. Perumpamaan lain menunjuk pada tema umum mengenai yang hilang dan yang ditemukan kembali. Perumpamaan ten tang domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang termasuk ke dalam kelompok ini.

Tetapi pengkategorian perumpamaan-perumpamaan itu tidak selalu pasti. Apakah perumpamaan tentang jala ikan termasuk kategori perumpamaan natur atau termasuk kelompok perumpamaan tentang pekerja dan upah? Dan kategori apa yang cocok untuk perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati? Mudah untuk melihat bahwa dalam mengelompokkan perumpamaan-perumpamaan itu bisa dimasukkan ke mana saja dan pada saat tertentu sepertinya dipaksakan.

Injil Sinopsis menyajikan perumpamaan-perumpamaan yang terdapat juga di dalam dua atau sering kali tiga Injil, namun ada juga perumpamaan-perumpamaan yang hanya terdapat dalam satu Injil. Injil Markus hanya mempunyai satu perumpamaan khusus bagi Injilnya (benih yang tumbuh tersembunyi), Injil Matius dan Lukas berisi beberapa perumpamaan khusus. Di dalam presentasi saya tentang perumpamaan, saya mengikuti urutan Injil yaitu pertama-tama mendiskusikan perumpamaan dari Injil Matius, dengan satu perumpamaan yang khusus yang diambil dari Injil Markus secara berurutan yaitu perumpamaan tentang penabur dan perumpamaan ten tang gandum dan lalang, kemudian satu perumpamaan yang diambil dari Injil Lukas. Di dalam perumpamaan yang terdapat juga dalam Injil yang lain, diambil perumpamaan yang hampir sama dari urutan Injil Matius, Markus dan Lukas. Prosedur ini diberlakukan untuk membantu pembaca yang ingin melakukan penelitian berdasarkan keparalelan sinoptik. Contohnya, karya K. Aland yang berjudul Synopsis of the Four Gospels. [21] Di dalam studinya ten tang perumpamaan-perumpamaan, referensi dalam bahasa Yunani dan Ibrani jarang digunakan. Kalau referensi dalam kedua bahasa itu muncul, referensi itu diberi bentuk salinan huruf ke huruf abjad yang lain dan terjemahannya disertakan juga. Alkitab bahasa Inggris yang menggunakan cara ini adalah New International Version (dengan seijin dari Executive Committee). Keuntungan bagi pembaca adalah teks NIV dicetak penuh di bagian permulaan tiap-tiap perumpamaan. Perumpamaan-perumpamaan itu memiliki pararel di dalam ketiga Injil Sinopsis yang diberikan secara berurutan Matius, Markus dan Lukas. Empat puluh perumpamaan dan ucapan-ucapan parabolis didiskusikan di dalam buku ini. Semua perumpamaan pokok dan bagian yang lebih besar dari ucapan-ucapan parabolis didaftar di dalam buku ini. Tentu saja, ucapan-ucapan itu harus diseleksi, sehingga perumpamaan ten tang garam dimasukkan dan perumpamaan ten tang terang dihilangkan. Hanya ucapan-ucapan parabolis dari Injil Sinopsis yang sudah diteliti, Injil Yohanes belum diteliti.

Literatur ten tang perumpamaan sangat banyak, seperti suatu aliran buku-buku dan artikel-artikel yang tidak berhenti. Akhir-akhir ini, hampir tidak ada perumpamaan yang diabaikan oleh sarjana-sarjana. Pandangan baru dari studi ten tang kebudayaan dan hukum Yahudi menjadi sangat berharga untuk mendapatkan pengertian yang lebih baik tentang pengajaran Yesus. Tujuan dari buku ini adalah untuk mempresentasikan dengan penjelasan yang cukup dan kontemporer kepada orang percaya yang mau belajar Alkitab dengan serius dan pendeta, ten tang perumpamaan tanpa hams dibingungkan oleh semua rinciannya. Catatan kaki dan bibliografi yang telah diseleksi akan membantu para teolog yang ingin studi lebih lanjut tentang perumpamaan-perumpamaan Yesus secara lebih intensif. Dengan materi bibliografi dan indeks yang demikian, dia akan mendapatkan jalan masuk kepada literatur yang tersedia tentang perumpamaan-perumpamaan Yesus.



Catatan :

[1] R. Schippers, "The Mashal-character of the Parable of the Pearl," dalam Studia Evangelica, ed. F.L. Cross (Berlin: Akademie-Verlag, 1964), 2:237.

[2] 2. F. Hauck, Teological Dictionary of the New Testament, V:752.

[3] A.M. Hunter, The Parables Then and Now (London: Westminster Press, 1971), 12.

[4] I. Epstein, ed., "Seder Zeraim Berakoth 13a,"dalam The Babylonian Talmud (London: Soncino Press, 1948),73

[5] Hauck, Teological Dictionary of the New Testament, volume: 758. J. Jeremias, di dalam bukunya Die Gleichnisse Jesu edisi ke 8 (Gottingen: Vandenhoeck & Ruprecht, 1970) 8, mengatakan bahwa perumpamaan-perumpamaan Yesus mempunyai kontribusi terhadap perkembangan gaya literatur dari perumpamaan-perumpamaan rabi.

[6] J. Jeremias, The parables of Jesus (New York: Scribner, 1963), 13-18, berpendapat bahwa kata-kata Yesus telah diletakkan secara salah dan berasal dari tradisi lain; kata-kata itu pasti ditafsirkan tanpa referensi dari konteks Injil Markus 4. Menurut Jeremias, penulis memasukkan perikop dari tradisi lain karena slogan parable(perumpamaan) asal mulanya berarti riddle (teka-teki), Jadi Jeremias menganggap ada dua arti untuk kata parable di dalam Markus 4, yaitu perumpamaan yang benar dan arti lain adalah teka-teki. Tetapi peraturan penafsiran, tidak mendukung penafsiran Jeremias, karena selain penginjil menunjukkan perbedaan dalam mengerti sebuah kata, juga harus mennyimpan arti yang sarna di seluruh perikop.

[7] W. Lane, The Gospel According to Mark (Grand Rapids: Eerdmans. 1974), 158; W. Hendriksen, Gospel of Mark (Grand Rapids: Baker Book House, 1975), 145; H.N. Ridderbos, The Coming of the Kingdom(Philadelphia: Presbyterian & Reformed, 1962),124.

[8] C.E.B. Cranfield, "St. Mark 4:1-34," Scot JT 4 (1951): 407.

[9] Lane, Mark, 160.


[10] CE. van Koetsveld, De Gelijkenissen van den Zaligmaker (Schoonhoven, 1869), volume 1,2.

[11] A. Jülicher, Die Gleichnisreden Jesu (Tubingen: Buchgesellschaft, 1963), volume 1, 2.

[12] Tanyakan ke karya studi yang menarik dari M Black, "The Parables of Allegory" dalam BJRL 42 (1960): 273-87; RE Brown, "Parable and Allegory Reconsidered" dalam NTS 5 (1962) : 36-45

[13] C.H. Dodd, The Parables of the Kingdom (London: Nesbit and Co., 1935),26.

[14] Jeremias, Parables, 113, 114.

[15] A.M. Brower, De Gelijkenissen (Leiden: Brill, 1946), 247; G.V. Jones, The Art and Truth of the Parables(London: S.P.C.K., 1964),38.

[16] M.A. Tolbert, Perspectives on the Parables (Philadelphia: Fortress Press, 1979),20.

[17] D.O. Via, Jr., dalam bukunya "A Response to Crossan, Funk, and Peterson," dalam Semeia 1 (1974): 222, menyatakan, "Saya sama sekali tidak tertarik bahkan kepada Pribadi Jesus di dalam sejarah."

[18] J.D. Crossan, dalam bukunya "The Good Samaritan: Towards a Generic Definition of Parable," dalamSemeia 2 (1974): 101, kelihatannya menunjukkan bahwa sebuah dalil yang menarik itu lebih penting daripada sebuah dalil yang benar.

[19] L. Berkhof, Principles of Biblicallnterpretation (Grand Rapids: Baker Book House, 1952),100.

[20] A.B. Mickelsen, Interpreting the Bible (Grand Rapids: Eerdmans, 1963),229.

[21] K. Aland, Synopsis of the Four Gospels (Stuttgart: Wuttembergische Bibelanstalt, 1976).



Disalin dari :

Simon Kistemaker, The Parables of Jesus, 1980, ISBN 979-9532-42-6

Rabu, 12 Mei 2010

Kesaksian Joseph Surga Terbuka

sorga-terbuka

Artikel ini adalah bab tentang Surga yang dikutip dari buku Sorga Terbuka Kesaksian Joseph anak berumur 11 tahun.

Untuk versi lengkapnya silakan download di sini:

Malam itu, kami berdoa hingga tengah malam, juga bersama dengan pendeta Miguel dari Miami. Sebagian kata dalam dalam doa beliau adalah:” Tuhan ,tunjukkanlah sisi yang lain dari dunia roh ini.” Lalu ia berkata: ”Joseph, engkau sudah melihat satu sisi dari alam roh yang mengejutkan dan sempat menakutkan, tetapi Joseph engkau juga akan melihat sisi lain dari dunia roh.” Memang , saya dan mama sempat berdoa:” Tuhan, jika dapat, lalukan penglihatan ini
karena sangat menakutkan dan melelahkan.”

Saya melihat sebuah gedung megah dan besar, tetapi saya tidak dapat masuk ke dalamnya walupun pintunya terbuka. Saya merasa ada kekuatan yang menahan, saya diantar oleh 2 malaikat. Dari luar saya melihat ada sebuah peti dibungkus emas , diatasnya ada 2 patung emas berhadapan, di tengah-tengahnya ada sinar dan di belakangnya ada Tuhan Yesus, yang tangan-Nya memberkati peti itu, tetapi saat itu saya hanya melihat dari luar, karena malaikat itu berkata kepada saya:” Jika engkau mau masuk ke dalam gedung itu, hatimu harus benar-benar suci dan tulus.”

Saya diingatkan, bahwa saya masih menyimpan sakit hati terhadap mama. Kemudian saya melihat burung merpati yang terbang berpasangan. Malaikat mengatakan, bahwa burung merpati tidak mempunyai empedu, ia tidak mempunyai kepahitan hati. Dan ia melambangkan kesucian dan kesetiaan, karena jika salah satu dari pasangannya mati, burung itu tidak mencari pasangan lain hingga ia juga mati.

Saya sakit hati terhadap mama dan ini membuat saya sedih karena Tuhan tidak berkenan ,kemudian saya minta ampun kepada mama, demikian juga mama minta maaf kepada saya,terjadilah perdamaian antara kami.
Malam itu saya berdoa dan saya merasakan seperti berada dalam kuasa Roh Kudus, tetapi Roh Kudus belum masuk menemui saya. Waktu berdoa sore itu dengan mama, lidah saya sudah kaku, tetapi rasanya Roh kudus tidak dapat masuk, lalu saya berkata kepada mama, Roh Kudus tidak dapat memenuhi saya , karena saya masih ada ganjalan dalam hati terhadap saudara saya.Jadi saya tunggu dia datang, lalu saya minta maaf, kemudian kita berdoa lagi bersama-sama dengan mama dan saudara-saudara, dan Tuhan memenuhi saya dengan Roh Kudus, Puji Tuhan.
Sesudah saya minta ampun kepada mama, dan saudara saya untuk kepahitan hati saya, pagi-pagi sekali saya di bawa ke Sorga lagi. Kali ini saya boleh masuk ke dalam gedung yang besar dan megah itu.

Didalam gedung itu saya melihat ada tempat api yang ditutup, ada meja dengan tumpukan roti diatasnya, ada pelita emas yang menyala, ada sebuah mezbah yang baunya wangi, ada mahkota besar penuh permata, dan indah sekali. Saya bertanya-tanya mahkota siapa yangsedemikian besar itu. Ada juga pedang yang ada mutiara pada pegangannya, yang saya lihat dipegang oleh Tuhan Yesus, waktu saya pertama kali melihat Dia, ketika berperang dengan trisula iblis. Pedang itu terletak di depan peti yang di bungkus emas, ada buku besar dari emas, di dalamnya kertasnya berwarna putih bertuliskan emas.
Diatas atap ada 7 terompet, beberapa waktu sekali, terompet itu ditiup oleh 7 malaikat, bunyinya, wauw… mengagumkan. Waktu terompet itu ditiup, keluar asap putih dan sinar dari atas peti membumbung ke atas.

Waktu saya berada di ruangan itu, saya mencoba melihat ke dalam gulungan kitab itu. Tuhan Yesus tidak marah, Dia tersenyum kepada saya , juga saya lihat 7 mangkok emas, ada ukirannya. Peti itu memiliki gelang-gelang dan usungannya, ternyata peti itu dapat dibuka. Saya mencoba mengintip ke dalam peti itu, ternyata didalam peti itu saya melihat, ada sebuah tongkat kayu. Tongkat itu mempunyai bunga dan daunnya yang hidup, sedangkan ia tidak mempunyai akar. Ada 2 lempengan batu gepeng. Ada sebuah kendi emas.

Waktu saya masuk, malaikat yang mengantarkan saya menunggu diluar gedung ini, ruangan maha kudus, saya memanggil dia untuk masuk kedalam gedung ini juga, tetapi malaikat memberi syarat kepada saya bahwa dia tidak boleh masuk kedalam ruagan ini, dan juga tidak semua manusia boleh masuk, hanya yang hatinya benar-benar suci dan tulus yang boleh masuk ke ruangan ini.

Pintu gerbang sorga yang besar dan tinggi sekali terbuat dari emas dan pegangannya dari mutiara dan di jaga oleh 2 malaikat berjubah putih. Jalannya terbuat dari emas, batu-batu dan kerikilnya terbuat dari permata juga.

Banyak rumah dari emas yang tembus pandang dan diatas tiap-tiap pintu rumah ada mahkota dari emas penuh permata. Mahkota itu ada yang besar dan ada yang kecil. Rumah-rumahnya pun ukurannya berbeda-beda. Letaknya tidak berdempetan seperti di bumi, tetapi ada halaman-halamannya yang luas dan letaknya di bukit-bukit, bagus sekali. Ada rumah yang bagus tetapi belum ada penghuninya. Ada rumah yang baru tiangnya saja yang dibuat. Ada rumah yang besar, tetapi sayangnya tembok-tembok rumah itu tampak retak-retak dan hampir roboh. Dinding rumah-rumah terbuat dari emas berkilau-kilauan dan penuh dengan permata-permata.

Malaikat menjelaskan kepada saya bagaimana cara membuat rumah disana. Bila kita berbuat baik, ada bahan untuk membuat rumah, tetapi jika kemudian berbuat jahat, perbuatan itu dikikis sampai jadi murni, baru bisa di buat untuk bahan bangunan rumah. Kalau banyak kebaikan yang dilakukan menurut firman Tuhan, rumah itu cepat jadi, tetapi jika kemudian berbuat jahat rumah itu perlahan-lahan akan retak-retak dan kalau tidak segera diperbaiki dengan perbuatan baik yang murni, rumah itu akan roboh.

Suatu kali, saya dan mama dibawa ke danau kaca yang luas sekali. Dari kejauhan, atap perumahan tampak berkilau. Dan Tuhan datang dalam api, lalu mengucapkan ulang kata-kata berkat sebagai berikut:” Jagalah kesucianmu, maka berkat ini akan Kulimpahkan dan Kupercayakan kepadamu.”

Sorga itu luas sekali, dan jaraknya jauh-jauh tetapi ditempuh hanya dalam beberapa detik saja untuk pergi dari satu tempat ke tempat lainnya, sebab begitu kita merasa ingin pergi ke situ langsung kita berada di tempat itu.

Di Sorga ada sekolah minggu, anak-anaknya banyak sekali dalam gedung yang sangat besar. Mama pernah menyuruh saya menanyakan kepada Tuhan, jika saya bertemu dengan Dia, anak-anak dari tante saya meninggal waktu di kandung berumur enam bulan dan delapan bulan. Waktu saya melihat anak-anak yang begitu banyak, puluhan ribu jumlahnya, saya berfikir bagimana saya mencari anak-anak dari tante saya. Baru saja saya memikirkan hal ini, tiba-tiba muncul 3 orang anak datang kepada saya dan menyapa, mereka lucu-lucu, seorang anak laki-laki kira-kita berumur 6 tahun, rambutnya gelombang-gelombang. Seorang anak laki-laki agak gemuk dan seorang anak perempuan kecil kira-kira berumur 8 tahun, saya bertanya-tanya , bukankah mama mengatakan anak tante saya 2 orang dan mengapa sekarang ada 3?

Setelah menanyakan kepada tante saya, ternyata tante saya mengatakan benar, bahwa ada 3 anak tante yang keguguran waktu dalam kandungan dan yang ketiga baru berumur tiga bulan dalam kandungan. Waktu gugur tampak bahwa anak itu perempuan, dan oleh tante saya sempat di beri nama Yohana. Anak itu yang saya lihat di Sorga dan anak itu juga bertumbuh disana, begitu mengherankan Tuhan itu!

Waktu saya mulai masuk surga, dari pintu gerbangnya saya merasa seperti sedang berjalan diatas karpet. Saya melihat ke bawah, hijau dan tebalnya kira-kira 10 cm. Tetapi begitu saya mengangkat kaki saya, rumput itu kembali berdiri, sehingga tidak ada bekas tapak kaki saya di rumput. Bunga-bunganya besar-besar dan bagus sekali, ada juga yang berbentuk kupu-kupu dan bau di surga wangi sekali. Pohon dan daun-daunnya berwarna hijau bercampur emas. Ada pohon yang daunnya seluruhnya dari emas. Di atas rumput ada embun yang berwarna putih kekuning-kuningan keruh. Malaikat menunjukkan kepada saya, cara mebuat roti dari embun. Ia mengambil 2 butir embun lalu di gosok dengan tangannya, embun tadi menjadi roti, rasanya enak tidak terasa manis. Dan saya juga ingin mencoba unutk membuat roti, saya minta gelas, tetapi malaikat itu memberi ember. Kemudian saya kumpulkan titik-titik embun itu, lalu saya gosok seperti yang dilakukan malaikat tadi. Tiba-tiba embun itu menjadi roti yang tinggi.

Ketika itu saya ingin minum, dan saya member isyarat kepada malaikat itu, ia menunjukkan kepada saya untuk mengambil buah yang bentuknya seperti botol dan keras. Waktu itu saya menanyakan dengan bahasa isyarat bagaimana saya dapat minum dari buah yang keras itu, lalu ia menunjukkan dengan menggosok ujung buah itu dengan tangannya. Buah itu menjadi lunak dan dari buah itu keluar cairan yang berwarna merah yang dapat saya minum dan rasanya enak.

Di sorga buah – buahannya besar-besar, anggur besarnya 1.5 kali bola tenis, rasanya manis sekali kalau dimakan tidak habis-habis. Begitu saya memetiknya, aneh, buah yang baru muncul lagi. Sesudah saya makan dengan puas dan sisanya akan saya buang tiba-tiba yang saya buang langsung hilang. Di sorga tidak ada sampah dan saya sempat mencicipi sekitar 20 macam buah-buahan.

Malaikat juga memberi contoh kepada saya bagaimana makan permen dari akar tanaman yang langsung dimakan rasanya seperti tanaman itu sendiri, misalnya dari tanaman strawberry, akarnya juga rasanya seperti strawberry dan tanaman buah–buahan yang lainnya juga. Saya juga makan es krim sampai 8 cup dengan bermacam-macam rasa, dan saya coba semua karena rasanya sangat enak.

Di sorga saya meilhat danau kaca besar sekali, Tuhan Yesus duduk di sebuah batu dengan membawa 2 kitab, satu kecil dan satunya besar. Jika laut kaca itu dibalik, bisa langsung melihat ke bumi.

Saya melihat buku yang dipegang Tuhan Yesus itu banyak tulisan nama-nama, waktu saya melirik buku yang dipegang Yesus, Dia sempat menunjukkan perbuatan saya yang tidak baik yang diberi contreng yaitu dosa fitnah.
Tuhan bilang dosa fitnah itu dosa yang besar, lebih dari dosa pembunuhan lalu saya diingatkan ketika saya berusia 4 tahun, saya menfitnah pembantu saya. Sebenarnya perbuatan itu salah saya sendiri, tetapi saya bilang kepada mama kalau itu diajarin oleh pembantu saya, sehingga pembantu saya dimarahi mama. Kemudian saya minta ampun kepada Tuhan, langsung tanda contreng itu hilang.

Tuhan juga mengatakan jika kesalahan-kesalahan di akui dan minta ampun, ikatan itu dilepaskan dan di ampuni. Tetapi jika orang itu berbuat salah, minta ampun, berbuat salah lagi, minta ampun lagi, terus menerus, tidak akan diampuni, kecuali ia minta ampun dengan sungguh-sungguh.
Tuhan itu baik sekali, Dia senyum-senyum pada saya. Di sorga tidak ada lampu, tetapi terang terus. Saya merasa seperti sudah berada di sorga selama 5 hari, karena saya bisa melihat dari laut kaca, di bumi sudah berganti siang menjadi malam, terang menjadi gelap beberapa kali.

Dari sorga saya juga sempat melihat ke bumi ada seorang ibu, terbaring di rumah sakit, sakit jantung, jantungnya sudah busuk separuh dan hampir mati, tetapi keluarganya dan ibu itu sendiri berdoa. Saya melihat Tuhan Yesus mengeluarkan sinar dari tangan-Nya langsung menembusi laut kaca, masuk ke dada ibu itu. Kemudian saya melihat jantung ibu itu sembuh total, dan saya melihat keluarga itu dan para suster terkejut dan mereka berlarian mencari dokter.
Saya juga melihat sebuah sungai. Saya kira sungai itu berisi air, tetapi setelah malaikat memasukkan tangannya ke dalam sungai itu, bunyinya bukan seperti air. Saya mencoba memasukkan tangan saya ke dalam air itu, ternyata isi sungai itu adalah permata dan emas.
Malaikat juga menunjukkan rumah saya. Saya melihat rumah mama dan kakak-kakak saya. Besarnya tidak sama dan juga ada mahkota dari berlian dan permata bermacam-macam, tetapi besarnya juga tidak sama. Ada beberapa anggota saya yang Tuhan tunjukkan yang belum mempunyai rumah di sorga.

Setelah saya dibawa Tuhan ke Sorga dan dipenuhkan dengan Roh Kudus, saya penuh sukacita, sangat berbeda dibandingkan pada saat saya baru mendapat penglihatan yang mengerikan itu dari lembah Harmagedon.

Saya sedang berdoa di rumah kakak saya, bersama-sama dengan oma, mama dan saudara-saudara yang lain, kami berlima. Saat saya berdoa, saya mendengar bisikan suara:
“Bersiaplah pada malam hari nanti.” Bisikan suara itu sampai 2 x. Saya ceritakan hal tersebut kepada mama.

Malam hari itu, saat saya akan tidur, lampu kamar tidak saya matikan karena saya mersa
takut dan tidak siap. Kira-kira jam 04.00 pagi, saya terbangun. Saya pikir, saya sudah bebas dari bisikan semalam, karena sudah menjelang pagi, lalu saya ke toilet untuk buang air kecil. Setelah itu, saya kembali ke tempat tidur. Sesaat, saya melihat sinar putih kebiru-biruan mengenai tubuh
saya. Saya merasa ditarik keluar dari tubuh saya dan menuju ke suatu tempat di atas awan-awan, dimana Yesus sudah menunggu. Lalu Yesus berkata: ”Apa ada yang mau ditanyakan ?” Lalu saya jawab: “Ya Tuhan, mengenai kelanjutan hubungan si A dan si B.”

Tuhan Yesus terdiam agak lama, lalu Yesus berkata kepada saya: ”Apakah si B menurut kamu bisa berubah?” Saya jawab: ”Tidak bisa”. “Apakah menurutmu si A bisa bertahan?” Saya jawab: ”Saya kira tidak bisa.” Bagaimana menurutmu hubungan si A dan si B?”

Saya jawab:
”Saya pernah berfikir lebih baik mereka bercerai saja.” Lalu sesaat kemudian, Tuhan Yesus berkata: ”Sampaikan nasehat Saya kepada si A.” Suruh pandang Aku dan percayalah bahwa nanti suatu saat dia (si B) akan berubah.” Lalu Tuhan diam sesaat dan berkata: ”Memang pelanggaran si B cukup berat, ada beberapa hal melanggar hukum-hukum- Ku dan itu pun hukumannya juga berat, tetapi sampaikan kepada dia lakukanlah firman-Ku yang Kusampaikan setiap saat.”

Kemudian saya dibawa ke rumah si B dan saya lihat rumahnya sudah hampir roboh, mahkotanya sudah mulai rusak, permata-permatanya banyak yang hilang!
Tiba-tiba saya terbang dibawa ke suatu tempat berupa taman yang indah, yang belum saya pernah lihat di bumi, saya sempat makan buah berbentuk melon tetapi tidak pernah habis,saya makan kira-kira 30 potong lebih, rasanya manis dan tidak pernah ada rasa seperti itu di bumi, setelah kenyang, saya bangun.

Pagi itu, saya merasa tangan kanan saya di pegang oleh seseorang, lalu saya bangun, duduk diatas ranjang. Saya melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Lalu saya tiduran lagi di samping mama saya.

Sesaat kemudian, saya melihat sinar putih menuju ke tubuh saya, roh saya di tarik keluar dari tubuh saya, menuju keatas melalui sinar itu secara perlahan-lahan, rasanya hangat, lalu saya tiba di taman di Sorga dan saya lihat Tuhan Yesus sedang duduk di kursi goyang, terbuat dari kayu, memegang buku agak besar, kulitnya dari emas dan memegang pena dari api dalam suasana santai, sambil menulis.

Jubah Yesus kali ini warna krem muda mengkilap bagian leher dilipat. Saya dibawa jalan-jalan di taman Sorga, lalu kami duduk di kursi taman yang terbuat dari
emas dan saya melihat ada pohon berbuah berenteng-renteng, memanjang ke bawah. Kami memetik buah itu bersama-sama, lalu kami makan, rasanya enak, manis sekali. Yesus sampat berkata kepada saya: ”Enak ya buahnya?” Saya jawab: ”Enak sekali.”

Setelah itu saya melihat benda putih terbang turun mendekati kami, ternyata itu malaikat, dan Tuhan Yesus memberitahu kepada saya nama malaikat ini, Mikhael. Ia memakai jubah putih mengkilap zig-zag dari emas, Ia juga mengenakan gelang emas penuh permata berlian dan sayapnya besar sekali, posisi kedua sayapnya ke bawah sampai ke tanah, berbadan kekar sekali, rambut bergelombang sampai ke bahu, pandangan matanya tajam, serius.

Saya melihat Yesus dan malaikat itu berkomunikasi tanpa bicara tapi saling mengerti, sesaat kemudian malaikat itu mengangguk-anggukkan kepalanya lalu membuka sayapnya lebar-lebar dan mengepak-kepakkan sayapnya, indah sekali bulunya, mengeluarkan percikan-percikan sinar putih lalu terbang ke atas dan menghilang.

Kemudian saya dan Tuhan Yesus jalan lagi di taman dan saya melihat ada tanaman banyak sekali, bergerombol, buahnya berbentuk gelas, ada yang besar dan kecil.
Di dekat tanaman ini saya melihat ada tanaman yang bunganya sangat berlubang besar penuh isi madu. Lalu kami memetik buah yang berbentuk gelas, mengambil madu dan minum bersama-sama sampai madunya habis.

Tuhan Yesus hanya minum 1 gelas, sedangkan saya beberapa gelas. Sesaat kemudian, bunga itu mengeluarkan asap yang berbau sangat wangi dan dalam sesaat juga bunga itu sudah penuh dengan madu lagi. Saya minum lagi sampai puas, Tuhan Yesus tersenyum melihat saya.
Setelah selesai minum, saya mau membuang gelas itu, tapi Yesus berkata :” Gelas itu bisa dimakan,” Lalu saya makan rasanya agak asin dan renyah.

Kemudian Yesus membawa saya ke sebuah gedung tidak seberapa besar, atapnya ada ukiran berbentuk tanaman-tanaman dari emas, ditengah-tengah atap ada lubang, dimana sinar dapat masuk, menyinari sebuah tanaman yang diletakkan di engah-tengah gedung itu, di dalam pot dari emas berbentuk bundar, tanahnya berwarna merah.

Tanaman itu bercabang dua, berdaun lebar-lebar. Masing-masing cabang itu ada satu buah yang bersinar dan daunnya seperti melindungi buah itu. Buahnya hanya ada dua. Lalu Yesus berkata: ”Petiklah salah satu buah itu dan makanlah!” Saya petik dan saya lihat buah itu berwarna hijau kemerahan. Saat saya makan, buah itu agak berair, agak manis, dingin dan segar. Akan tetapi begitu sampai di perut, perut saya terasa terkocok dan hati saya merasa aneh, susah untuk di ceritakan.

Kemudian saya melihat daun yang saya petik buahnya, rontok seketika semuanya, hanya tersisa cabang yang satunya berikut buah dan daunnya. Yesus berkata: ”Buah yang masih tersisa satu ini, akan kuberikan kepadamu pada lain waktu.”

Buah-buahan di sorga yang saya tahu, bila dipetik langsung ada buahnya lagi, tapi buah yang satu ini tidak tumbuh lagi. Lalu Yesus dan saya menuju gedung lain yang tidak seberapa besar, semuanya dari emas. Disitu ada lemari kaca yang di dalamnya ada 3 permata, berwarna merah muda, panjangnya 4 cm, lebar 2.5 cm. Kemudian Yesus meletakkan ketiga-tiganya di tangan kiri saya, lalu saya ambil dengan tangan kanan dan saya hadapkan keatas. Sesaat
kemudian permata itu melebar menjadi sekeping kaca yang sangat lebar, melayang lepas dari tangan saya. Dari kaca itu, saya melihat patung Liberty di New York yang ada pada saat itu suasananya remang-remang sore itu. Saya diberi satu permata oleh Tuhan Yesus, lalu saya masukkan ke dalam kantong celana saya.

Setelah itu saya bertanya: ”Tuhan Yesus rumah-Mu dimana?” Saya dibawa ke rumah-Nya. Besarnya kira-kira ratusan kali lipat dari rumah oma saya, dimana banyak merpati putih di atas pohon-pohon. Saya diajak duduk diatas kursi dari emas oleh Yesus. Saya melihat seperti ada perpustakaan, banyak buku, tapi ada satu buku yang ditaruh di dalam almari kaca, tersegel. Saya tidak bisa baca dengan jelas, tulisannya indah dari emas tapi saya tidak mengerti.
Ternyata itu adalah Buku Kehidupan, sempat oleh Yesus dibawakan kepada saya dan saya melihat ada tulisan emas di cover depan buku itu, tapi saya tidak mengerti. Saya coba untuk membuka buku itu tidak bisa, tapi Yesus dengan mudah dapat membuka buku itu.

Setelah itu Yesus mengajak saya pulang. Sebelumnya saya mampir ke Rumah Tuhan Yesus dan Ia berkata: ”Sebentar ya,” sambil tersenyum. Sesaat kemudian saya melihat peti dari emas dan Tuhan Yesus mencari sesuatu dalam peti itu lalu memegang seruling dari emas penuh permata, kira kira ada 4 lubangnya, juga terompet. Saya pikir yang seruling lebih indah. Tuhan Yesus tahu pikiran saya, lalu seruling itu diberikan kepada saya. Yesus berkata: ”Pada suatu saat
akan Kujelaskan arti dan cara pemakaian seruling itu!”

Setelah itu Yesus mengarahkan kedua tangan-Nya ke lantai dan keluar sinar dari tangan-Nya menembusi lantai, terbuka lubang dimana saya bisa melihat tubuh saya di tempat tidur lalu saya turun melalui lubang itu sambil melihat ke atas melambaikan tangan ke arah Yesus, dan Yesus juga melambaikan tangan-Nya. Sesaat kemudian saya sudah kembali ke tubuh saya. Saya melihat mama saya sedang duduk di samping saya, berdoa dalam bahasa roh.

Kemudian dilain kesempatan saya digandeng oleh Yesus menuju ke Sorga. Tiba-tiba saya teringat rumah saya yang pernah saya lihat sekitar 2 tahun lalu. Saya tanyakan rumah saya.
Seketika, saya sudah berada disana! Saya lihat rumah saya semakin besar sedikit dan mahko anya lebih besar sedikit juga. Saya kemudian teringat akan pesan oma saya, kalau kamu ke Sorga tolong tanyakan rumah oma sama Tuhan Yesus. Sesaat saja, saya sudah tiba di rumah oma. Ternyata besar sekali, kira-kira 2x lebih besar dari rumah saya. Di tamannya, saya lihat banyak merpati putih hinggap di pohon-pohon.

Setelah itu, Yesus membawa saya menembusi lantai dimana kami berdiri dan tiba-tiba kami sudah berada di atas awan-awan. Tempat saya mula-mula bertemu dengan Yesus.
Kemudian Yesus berkata: ”APA YANG KAMU LIHAT ADALAH NYATA DAN APA ADANYA! Kita akan bertemu lagi pada waktunya.” Saya merasa Yesus sibuk sekali, sesaat
kemudian saya kembali ke tubuh saya. Saya terbangun dan melihat mama sedang berdoa dalam Bahasa Roh dengan bercucuran air mata. Tiba-tiba, saya melihat Tuhan Yesus datang lagi ke kamar saya tapi kaki-Nya tidak menyentuh lantai. Yesus menumpangkan tangan-Nya ke atas kepala saya dan mama sambil berkata: ”BERKAT DAN KUASA AKAN SELALU KULIMPAHKAN KEPADAMU.”

Lalu Yesus menjadi titik bintang menembusi plafon kamar tidur saya dan menghilang!
Hari itu, peringatan hari kematian Tuhan Yesus, Jumat Agung, dimana seluruh keluarga dianjurkan oleh mama unutk melaksanakan ibadah puasa.

Pagi itu, setelah kami menyaksikan acara TVRI mengenai sengsara Yesus, kami menjadi terharu akan penderitaan Yesus, sampai kakak menangis saat melihat Yesus disiksa! Setelah acara tersebut selesai, mama mengajak kami semua berdoa bersama.
Ketika masuk dalam penyembahan, sangat terasa sekali hadirat Tuhan menguasai kami semua. Tiba-tiba saya melihat atap kamar di tempat kami sedang berdoa tidak ada!Saya bersama dengan mama dan saudara-saudara terasa tidak duduk di lantai kamar, tetapi berada di antara benda-benda langit yang bersinar-sinar dan awan-awan yang mengelilingi kami. Saya pikir, ini ada dimana? Setelah saya meilhat ke bawah, saya baru sadar kalau saat itu kita berada di ketinggian, di atas langit.

Pagi itu saya merasa ditarik ke luar dari tubuh saya dan dengan kecepatan yang luar biasa, saya tiba di taman Sorga, bertemu dengan Yesus yang sedang tersenyum, memakai baju
putih mengkilap, di bagian bahunya ada warna biru mengkilap. Oleh Yesus, saya diajak ke laut kaca seperti yang pernah saya lihat. Kali ini saya diperlihatkan, laut kaca itu jernih, bening, lunak berkilau-kilauan. Dari kejauhan saya melihat ada kuda warna putih polos dan merah padam.
Setelah itu, Tuhan Yesus membalik laut kaca dan saya bisa melihat bumi. Saya melihat seseorang yang saya kenal yaitu Ibu E. Ia sedang duduk di kursi panjang seperti ruang tunggu.
Kemudian, Tuhan Yesus membalik laut kaca itu kembali. Dan Tuhan Yesus mengangkat tangan-Nya ke atas, lalu saya melihat seperti slide, tampak seseorang tidur di atas meja panjang seperti tempat tidur. Dalam hati, saya tahu itu suami ibu E.

Saya melihat dari batas perut bagian bawah sampai dengan kepala penuh roh-roh jahat dengan berbagai macam bentuk. Ada yang berbentuk ular sepanjang 20 cm dengan kepala yang
mengerikan, dan bentuk-bentuk yang lain. Ada kaki tangannya banyak sekali, bergerak-gerak,membentuk benjolan-benjolan yang bergerak, perut jadi besar.
Sesaat kemudian, Yesus memperlihatkan hati suami ibu E, yang seperti padang pasir dilanda badai. Dan Yesus berkata: ”Bagi Aku, tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”

Setelah itu saya kembali ke tubuh saya. Saya melihat kakak-kakak saya lagi berdoa untuk saya. Saat itu ada rasa bahagia di hati saya. Lalu, saya mulai berdiri dan berjalan keluar, antara
sadar dan tidak sadar, saya menuju ke kamar kakak saya laki-laki, mencari sesuatu, tetapi tidak saya temukan. Saya tersadar, saya merasa heran, mengapa saya tiba-tiba berada di sini? Lalu saya keluar kamar lagi, menuju ke sofa dekat telepon. Saya duduk disana dan tiba-tiba saya
meliihat malaikat-malaikat berdiri di ujung atas tangga sambil mengepak-ngepakkan sayapnya keras sekali, bergetar cepat. Saya meihat slide, ada sesorang yang saya kenal, tergeletak di meja
operasi rumah sakit, dilayani oleh 3 dokter yang sedang membedah bagian perut, dari dada ke perut. Saya melihat pada layar monitor jantung, detak jantung orangnya hampir berhenti. Saya melihat banyak karangan bunga yang bertuliskan: ”Kami ikut berdukacita,” padahal orang itu belum meninggal. Ketika saya masih menyaksikan slide itu, mama saya menelepon bahwa akan segera pulang, dan kakak saya menceritakan keadaan saya.

Waktu mama pulang, saya ceritakan. Lalu kami berdoa bersama dengan salah seorang hamba Tuhan, yang saat itu sedang ikut ke rumah saya. Kami mulai berdoa dengan sungguh-sungguh dan terasa hadirat Allah menguasai kami semua. Kami mulai berjaga-jaga, hingga jam 5 pagi, bersama mama dan kakak saya dalam doa pujian.

Dalam kesempatan lain saya diajak jalan-jalan ke taman Sorga. Saya sempat makan buah rentengan berwarna merah, yang pernah saya makan beberapa waktu yang lalu, saat saya di ajak ke Sorga oleh Yesus. Saat saya akan makan buah itu pertama kali, saya merasa tubuh saya ada yang menggelitik, sehingga buah yang pertama saya ambil terlempar, dan Yesus tertawa.
Kemudian saya ambil lagi dan mulai makan bersama Yesus, tetapi tetap merasa tubuh saya ada yang menggelitik! Ternyata tubuh saya di bumi oleh mama digelitik supaya bangun karena mama kuatir.

Suatu kali saya diajak Yesus ke gedung yang pernah saya datangi, Ada pohon bercabang dua, yang waktu lalu buahnya diberikan kepada saya untuk dimalan, tapi kali ini Yesus perintahkan untuk petik buah yang masih tinggal satu itu, tapi tidak untuk dimakan, melainkan disimpan, harus di jaga, tidak boleh rusak. Yesus mengatakan: ” Pada saatnya nanti kamu akan kuberitahu kepada siapa buah ini harus diberikan.”
Sesaat setelah buah itu di petik, daunnya rontok, terdengar suara berdengung-dengung,
kemudian batang pohon itu dan tanah di bawahnya yang berwarna merah, hilang seketika! Lalu sinar yang turun dari lubang atap gedung itu hilang secara perlahan-lahan, dan lubang diatap gedung itu tertutup!

Saat itu, saya teringat untuk menanyakan rumah opa saya, saya lihat rumahnya paling kecil diantara keluarga besar kami. Bertingkat dan mungil seperti rumah peristirahatan, ada berandanya, lengkap dengan taman, sungai, semua dari emas dan permata.

Saya juga sempat menanyakan rumah tante saya, tapi Yesus tidak menjawab! Tapi dalam hati saya di beri pengertian bahwa tante saya itu belum termasuk keluarga besar kami, karena belum dipersatukan oleh Tuhan Yesus di depan altar-Nya dan belum dibaptis.

Kemudian saya menanyakan seruling yang Yesus berikan kepada saya waktu yang lalu.
Tiba-tiba saja seruling itu sudah berada di tangan saya. Lalu Yesus bertanya: ”kalau menurut kamu, untuk apa seruling itu?” Saya menjawab: ”Untuk main musik.” Yesus mengatakan:”
Itulah arti jasmaninya, kalau arti rohaninya untuk apa?” Saya diam, karena saya tidak tahu. Tetapi Yesus juga belum jelaskan waktu saya diberi seruling itu. Dia mengatakan: ”Pada waktunya nanti, Aku akan memberitahu kamu arti dan cara pemakaiannya!” Saya bertanya
kepada Yesus: ”Apa boleh saya tinggal disini terus?” Yesus menjawab: ”Tidak boleh, karena kamu masih banyak tugas!”

Setelah itu, Yesus mengajak saya lagi dan tempat saya berpijak disinari oleh sinar yang keluar dari tangan-Nya dan saya mulai turun menembusi laut kaca, turun ke bawah dan sesaat kemudian saya terbangun!

Saya melihat di taman belakang rumah saya, ada burung-burung merpati yang datang dari atas. Induk beserta anak-anaknya, semakin lama jumlahnya semakin banyak, sehingga tak terhitung lagi. Ada yang hinggap di pohon-pohon palem. Dan saya melihat taman itu menjadi sangat indah.

Setelah itu, saya merasa ada tangan yang memegang tangan kanan saya, dan tidak asing lagi yaitu tangan Tuhan Yesus sendiri, tanpa bicara.
Beberapa saat kemudian burung-burung merpati itu mendekati saya dan kemudian terbang. Saat burung-burung merpati itu mulai terbang, bulu-bulunya rontok semua dan segera berganti dengan bulu-bulu baru yang warnanya seperti emas berlkilau-kilauan. Merpati-merpati itu terbang terus sampai tak tampak lagi.

CATATAN

RUMAH DI SORGA

Dalam Yohanes 14: 1‐3, Yesus berkata:
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada‐Ku. Di rumah Bapa‐Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat‐Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

Kitab 2 Korintus 5: 1
Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.

Bahwa Tuhan Yesus meyediakan rumah bagi kita di Sorga tidaklah diragukan. Bahwa Sorga ternyata bertingkat‐tingkat, ternyata memang, ya. Rasul Paulus sendiri mengatakan:
Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan‐penglihatan dan penyataan‐penyataan yang kuterima dari Tuhan.
Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau‐‐entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya‐‐orang itu tiba‐tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. Aku juga tahu tentang orang itu, ‐‐entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya‐‐ ia tiba‐tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata‐kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.

2 Korintus 12: 1‐4
Kalau Sorga bertingkat‐tingkat, maka kesaksian banyak orang yang berkata, bahwa ukuran rumah kita juga kelak berbeda‐beda, jelas memang demikian. Sebagimana banyak orang mengalami kemajuan yang pesat dalam Tuhan, sehingga rumah yang di siapkan baginya pun bertambah besar dan indah, maka jika seorang makin mundur, rumahnya pun mengecil bahkan bisa hilang.
Tiap ketaatan kita, tiap buah roh yang muncul, tiap ujian yang bisa kita lewati, tiap hal yang menyukakan hati‐Nya, lewat sikap hati dan perjalanan hidup kia, akan membuat bangunan rumah kita makin besar dan indah.

Tiap tugas yang bisa kita selesaikan, tiap penderitaan yang dengan syukur kita jalani, tiap perendahan karena nama Tuhan Yesus yang harus kita alami, semuanya membuat rumah kita semakin cemerlang.

Tiap harga yang kita bayar, tiap kesakitan dalam penderitaan dalam nama Tuhan, membuat segalanya makin menampakkan kemuliaan Tuhan.
Sebaliknya makin hati kita tawar dan menjauh daripada‐Nya, tiap gerutuan dan sungut‐sungut, tiap kedagingan dan ketidaktaatan, akan makin memudarkan segala sesuatunya.

Amsal 24: 3‐4 berkata:
“Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar‐kamar diisi dengan bermacam‐macam harta benda yang berharga dan menarik.”