Jumat, 28 Mei 2010

Mengerti Firman Tuhan

Ayat bacaan: Lukas 11:28
===================
Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."

mengerti firman TuhanHari ini salah satu dari dua anjing chihuahua kami berulang tahun. Tidak terasa, sudah 3 tahun ia menjadi bagian hidup kami. Jika bagi sebagian orang anjing hanya sekedar binatang peliharaan, atau dijadikan penjaga rumah, bagi kami dia sudah seperti anak sendiri. Kip adalah seekor anjing yang sangat pintar dan sangat patuh. Dia akan minta dibawa keluar kalau kebelet, dia akan minta kalau air minumnya habis, tidak pernah mengacak-acak atau mengotori rumah. Dia selalu manja dan tidak segan-segan mendatangi kami untuk dibelai atau minta digendong. Tidak hanya itu keistimewaan Kip. Dia juga anjing yang penyayang dan perhatian. Jika salah satu diantara kami sedang kesal, dia akan menghampiri, menempel atau naik ke pangkuan dan segera menghibur. Suatu kali ketika saya menegur anjing satunya karena pipis sembarangan, Kip lah yang datang meminta maaf. Dia mengulurkan tangannya, dan menarik tangan saya ke arah anjing yang sedang dimarahi. Apa yang dia lakukan terasa menegur saya karena kurang bisa mengontrol kemarahan pada saat itu. Kedekatan selama 3 tahun membuat kami dan Kip bisa saling memahami meskipun bahasa yang dipergunakan jelas-jelas berbeda.

Luar biasa melihat bagaimana anjing bisa mempunyai rasa kasih dan kepedulian tinggi. Tapi semua itu tidaklah didapat secara instan. Kip sejak kecil diajar untuk mengerti kata-kata sederhana yang kami pakai buat mengajarkannya. Dia dulu juga pernah salah, dan setiap kesalahannya kami tegur sampai dia bisa mengerti hal yang baik dan buruk untuk dilakukan. Dia bukan hanya diajarkan untuk mengerti lewat hukuman, tapi juga mengerti akan kelakuannya yang benar lewat pujian yang kami berikan padanya. Dalam selang waktu tertentu, Kip pun menjadi anjing yang patuh, baik dan setia. Ini paralel dengan kita, manusia yang terus dibentuk Tuhan agar menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Seharusnya kita akan lebih mudah untuk mengerti karena kita memiliki hati nurani dan roh, yang tidak dimiliki oleh hewan. Kristus berulang kali menekankan pentingnya untuk mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan. Kita bukan hanya sekedar membaca, tapi juga diminta untuk mengerti dan melakukan. Tanpa itu semua, sia-sialah apa yang kita ketahui. Lihat bagaimana Yesus menegur beberapa orang Saduki karena mereka tahu isi, tapi tidak mengerti kitab suci. Hal demikian disebut Yesus dengan sesat. (Matius 22:29). Ayat hari ini pun menggambarkan dengan jelas, bahwa orang yang bahagia adalah siapa saja yang mendengarkan firman Tuhan dan memeliharanya (dalam bahasa inggris dikatakan "But He said, Blessed (happy and to be envied) rather are those who hear the Word of God and obey and practice it!"

Dalam kisah "perumpamaan tentang seorang penabur" pada Matius 13:1-23,Yesus menjelaskan bahwa apa yang ditaburkan di tanah yang baik adalah orang yang mendengar firman, lalu mengerti akan firman itu. Dan karenanya, orang yang berlaku demikian akan berbuah berlipat ganda. (Matius 13:23) Jika kita mau hidup bahagia dan hidup berbuah berlipat ganda, kita tidak cukup hanya membaca firman Tuhan, tapi juga harus mengerti, taat dan melaksanakannya. Ketika seekor anjing bisa belajar dari tuannya untuk kemudian patuh, taat dan setia, kita seharusnya bisa lebih baik lagi menerima pengajaran-pengajaran Tuhan, memahaminya dengan baik, serta melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita melakukan semua itu, nikmatilah hidup yang bahagia dan berbuah.

Tidak hanya membaca, tapi kita harus mengerti dan melakukan segala sesuatu sesuai firman Tuhan untuk hidup bahagia dan penuh buah

Kamis, 27 Mei 2010

Tuhan Yesus Sahabatku

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur, Filipina, yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah yang berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja tiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan, sahabatnya.
Tindakannya ini selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

“Bagaimana kabarmu, Andy? Apakah kamu akan ke Sekolah?”

“Ya, Bapa Pendeta!” balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.

Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, “Jangan menyebrang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah, kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat.”

“Terima kasih, Bapa Pendeta.”

“Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?”

“Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan.. sahabatku.”

Dan Pendeta tersebut meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan altar berbicara sendiri, tetapi pastur tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.

“Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanya kue ini.
Terima kasih buat kue ini, Tuhan! Tadi aku melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku jadi tidak begitu lapar.

Lihat ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan.Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa..
paling
tidak aku tetap dapatpergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa dari temanku sudah berhenti sekolah, tolong Bantu mereka supaya bisa bersekolah lagi.
Tolong Tuhan.

Oh, ya..Engkau tahu kalau Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu.
Tuhan, Engkau mau lihat lukaku??? Aku tahu Engkau dapat menyembuhkannya, disini..disini.aku rasa Engkau tahu yang ini kan….??? Tolong jangan marahi ibuku, ya..?? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makan dan biaya sekolahku..itulah mengapa dia memukul aku.

Oh, Tuhan..aku rasa, aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang sangat cantik dikelasku, namanya Anita. menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku??? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku.

Hei.ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira??? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu.
Aku berharap Engkau menyukainya. Oooops..aku harus pergi sekarang.”

Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta .

“Bapa Pendeta..Bapa Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyebrang jalan sekarang!”

Kegiatan tersebut berlangsung setiaphari, Andy tidak pernah absen sekalipun.

Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan.. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.

Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja tersebut diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga mengutuki orang yang menyinggung mereka.

Ketika mereka sedang berdoa, Andypun tiba di Gereja tersebut usai menghadiri pesta Natal di sekolahnya, dan menyapa “Halo Tuhan..Aku..”

“Kurang ajar kamu, bocah!!!tidakkah kamu lihat kalau kami sedang berdoa???!!! Keluar, kamu!!!!!”

christmas-giftAndy begitu terkejut,”Dimana Bapa Pendeta Agaton..??Seharusnya dia membantuku menyeberangi jalan raya. dia selalu menyuruhku untuk mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus, karena hari ini hari ulang tahunNya, akupun punya hadiah untukNya..”

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja.

“Keluar kamu, bocah!..kamu akan mendapatkannya!!!”

Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyebrangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja. Lalu dia menyeberang, tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang – disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar.dan Andypun tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tidak bernyawa lagi.

Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut, namun dengan penuh airmata dating dan memeluk bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya,”Maaf tuan..apakah anda keluarga dari bocah yang malang ini? Apakah anda mengenalnya?”

Tetapi pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam berkata,”Dia adalah sahabatku.” Hanya itulah yang dikatakan.

Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam saku baju bocah malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah tersebut, kemudian keduanya menghilang. Orang-orang yang ada disekitar tersebut semakin penasaran dan takjub..

Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sangat mengejutkan.

Diapun berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dengan kedua orang tua Andy.

“Bagaimana anda mengetahui putra anda telah meninggal?”

“Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.” Ucap ibu Andy terisak.

“Apa katanya?”

Ayah Andy berkata,”Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy, sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy dari wajahnya dan memberikan kecupan dikeningnya, kemudian Dia membisikkan sesuatu.

“Apa yang dikatakan?”

“Dia berkata kepada putraku..” Ujar sang Ayah. “Terima kasih buat kadonya.
Aku akan berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku.” Dan sang ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu.aku menangis karena bahagia..aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika dia meninggalkan kami, ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku.. Aku tidak dapat melukiskan sukacita dalam hatiku. aku tahu, putraku sudah berada di Surga sekarang.
Tapi tolong Bapa Pendeta .. Siapakah pria ini yang selalu bicara dengan putraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu di sana setiap hari, kecuali pada saat putraku meninggal.

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik,”Dia tidak berbicara kepada siapa-siapa… kecuali dengan Tuhan.”

Sumber: Tidak diketahui

Selasa, 25 Mei 2010

LEMBAH KELAM KEHIDUPAN

MAZMUR 23:4

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Di Israel ada lembah yang begitu dalam dan sempit. Lembah tsb begitu dalam sehingga matahari hanya sekali saja menerangi dasar lembah tsb yaitu pada puncak tengah hari –selebihnya, dasar lembah tsb selalu gelap. Waktu bertumbuh menjadi seorang gembala, Daud sering membawa domba-dombanya melalui lembah ini. Dan kalau Saudara mempelajari Alkitab maka istilah “lembah” seringkali dihubungan dengan masa-masa sukar dalam kehidupan kita.

- Yosua => Lembah Akhor = trouble/kesusahan 7:24

- Maz 84 => Lembah Baka = weeping/Air Mata

- Maz 23=> Lembah kelam

5 FAKTA TENTANG LEMBAH KELAM

1. PENGALAMAN LEMBAH TIDAK TERHINDARKAN

Yohanes 16:33

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan (In the world you will have tribulation), tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."

Di dalam dunia kamu “akan” mengalami penderitaan. Jadi ini bukan masalah “if” tapi “when”, terlepas apakah Saudara suka atau tidak. Saudara pasti akan mengalami kesukaran, kekecewaan, kesedihan dalam hidup ini. Ada masa penderitaan, patah semangat dan penyakit menyerang Saudara. Ada masa kegagalan, kefrustasian & kelelahan, Saudara suka atau tidak.

2. PENGALAMAN LEMBAH TIDAK BISA DIPERKIRAKAN

Saudara tidak bisa merencanakannya. Saudara tidak bisa menetapkan waktunya. Saudara tidak bisa menjadwalkannya. Pengalaman lembah justru biasanya muncul di saat-saat yang sangat tidak tepat. Pengalaman lembah sering muncul justru di waktu yang tidak diharapkan. Waktu Saudara sementara menghadapi dari segala sisi. Dan kemudiah yang Saudara hadapi adalah masalah dan masalah. Akan lebih mudah seandainya Saudara dan Saya bisa menjadwalkan pengalaman lembah dalam kehidupan kita, tapi sayangnya hal tsb tidak bisa terjadi.

Yeremia 4:20

Kehancuran demi kehancuran dikabarkan, seluruh negeri dirusakkan; kemahku dirusakkan dengan tiba-tiba, tendaku dalam sekejap mata

Saudara, pengalaman lembah tidak bisa diperkirakan.

3. PENGALAMAN LEMBAH TIDAK PANDANG BULU

Pengalaman lembah tidak peduli apa Saudara kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak. Dia tidak peduli Saudara cantik atau jelek, kurus atau gemuk, tua atau muda, Artinya : tidak ada yang kebal terhadap pengalaman ini. Tidak ada yang imun terhadap penderitaan dan kesengsaraan. Tidak ada orang yang bisa menjalani hidup bebas dari masalah. Semua orang punya masalah, tidak peduli apakah Saudara orang baik atau bukan. Orang baik orang jahat, kita semua mengalami masa sukar, penderitaan, gangguan, masa suram, depresi. Dan kalau Saudara mengalami hal tsb, bukan berarti Saudara adalah orang jahat. Hal itu hanya berarti bahwa Saudara adalah orang yang normal. Bukan berarti bahwa Saudara adalah manusia jahat. Hal itu hanya berarti bahwa Saudara adalah manusia biasa. Alkitab secara jelas memberitahu bahwa kadang-kadang hal-hal buruk menimpa orang baik dan kadang-kadang hal-hal baik bisa dialami oleh orang-orang jahat.

Matius 5:45

Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

4. PENGALAMAN LEMBAH HANYA SEMENTARA

Saudara tidak akan tinggal dalam pengalaman lembah selama-lamanya.

Mazmur 23:4 Yea, though I walk through the valley of the shadow of death, I will fear no evil: for thou art with me; thy rod and thy staff they comfort me.

“Through” = melewati! Semua masa sukar ada masa berakhirnya, ada “expire date.” Masa sukar seperti terowongan. Saudara masuk terowongan tampaknya semua gelap, tetapi ada terang di ujung terowongan. Saudara ingat, setiap kali Saudara masuk ke dalam terowongan ada terang di ujung terowongan tsb. Itu sebabnya bunuh diri merupakan suatu perbuatan yang bodoh, karena bunuh diri adalah SOLUSI PERMANEN untuk PROBLEM YANG TEMPORER. Robert Schuller : Though Times Never Last, but Tough People Do Ketabahan akan mengalahkan masa sukar dan penderitaan. Kalau Saudara tabah maka Saudara akan keluar dari terowongan dan melihat terang Tuhan yang bersinar.

2 Korintus 4:17

Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

Jadi semua penderitaan kita terhitung ringan dibanding dengan kemuliaan kekal. Dan masa sukar menolong kita untuk membangun iman kita. Kalau Saudara memberikan respon yang benar terhadap penderitaan maka hal tsb akan memberikan keuntungan yang bersifat kekal. Pengalaman lembah Saudara yang sementara akan membantu Saudara memperoleh kemuliaan kekal, yang jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Hal ini membawa pada point berikutnya :

5. PENGALAMAN LEMBAH ADA TUJUANNYA

Tuhan punya alasan membawa Saudara melewati pengalaman lembah, apakah itu kekecewaan, patah semangat, depresi, Tuhan selalu memiliki alasan dibelakang itu semua.

1 Petrus 1:6

1:6 Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagaipencobaan.

Bukan 1 pencobaan atau beberapa pencobaan, tetapi berbagai macam pencobaan –ada banyak macam pencobaan. Ada lembah keuangan, lembah masalah emosi, lembah hubungan, lembah kesehatan.

1:7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu -- yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api -- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

Jadi pengalaman lembah kehidupan bukan sesuatu yang kebetulan tetapi Tuhan ingin membangun iman Saudara dalam lembah kehidupan.

Saudara, kita semua senang pengalaman di puncak gunung. Tetapi kita tidak membangun iman di pengalaman puncak gunung. Waktu segala hal berjalan baik, Saudara pasti tidak merasa terlalu perlu Tuhan. Tapi kalau Saudara berhadapan muka dengan muka dengan pengalaman lembah, Saudara pasti akan berlutut dan mencari Tuhan, itulah waktu Saudara lebih dekat dengan Tuhan.

Saudara tidak membangun otot Saudara dengan berendam di jacuzi. Saudara membangun otot Saudara dengan pergi ke gym dan mengangkat beban. Begitu juga dengan iman kita. Kalau kita sementara melewati pengalaman lembah, hal tsb bukan karena Tuhan marah terhadap kita. Tuhan adalah Tuhan yang baik dan TUHAN LEBIH TERTARIK PADA KARAKTER KITA DARIPADA RASA NYAMAN KITA. Tujuan utama Tuhan bukan meningkatkan rasa nyaman Saudara tetapi mengubah Saudara sehingga Saudara makin serupa dengan Yesus.

APA YANG HARUS SAUDARA LAKUKAN WAKTU SAUDARA MELEWATI LEMBAH?

MAZMUR 23:4

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

1. TOLAKLAH KETAKUTAN

2 TIMOTIUS 1:7

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban

KELUARAN 14

Musa memimpin 3 juta orang Israel keluar dari Mesir. Kemudian mereka dapat masalah. Ada L. Merah di hadapan, kanan kiri p belantara dan gunung, sementara di belakang tentara Mesir mengejar. Mereka terpojok, , terhenti, tidak punya jalan keluar.

14:10 Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka. Lalu sangat ketakutanlah orang Israel dan mereka berseru-seru kepada TUHAN

Ketakutan mengerjakan 4 hal dalam diri Saudara :

  1. KETAKUTAN MEMBUAT KITA SKEPTIS

Ketakutan membuat kita penuh keraguan, penuh ketidak percayaan.

14:11 dan mereka berkata kepada Musa: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini?

Saudara bisa melihat sarkasme orang Israel? Musa, emangnya gak ada kuburan di Mesir jadi kamu bawa kita ke sini untuk mati? Mereka jadi skeptis. Kalau Saudara punya tendensi untuk meragukan sesuatu, sinis, skeptis, atau sarkastik.....akar masalahnya adalah ketakutan.

  1. KETAKUTAN MEMBUAT KITA MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI

Kita fokus pada diri kita sendiri, kebutuhan kita sendiri. Waktu kita takut, kita tidak peduli dengan kebutuhan orang lain –yang Saudara pikirkan hanya bagaiman Saudara bisa survive.

14:11 Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?

Sebenarnya mereka sudah jadi budak selama 400 tahun lebih di Mesir! Mereka berdoa-berdoa minta Tuhan lepaskan dari Mesir. Sekarang mereka menyalahkan Musa! Kalau Saudara ketakutan maka Saudara akan menyalahkan orang lain. Saudara tidak mau mengambil tanggung jawab. Saudara membenarkan diri Saudara sendiri dan menuduh orang lain. Ketakutan membuat kita egois, memikirkan kebutuhan kita sendiri, hanya mementingkan diri sendiri. Kita tidak mau bertanggung jawab atas hidup kita dan orang lain. Kita lempar batu sembunyi tangan. Kita menyalahkan orang lain.

  1. KETAKUTAN MEMBUAT KITA KERAS KEPALA

Waktu kita takut, kita cenderung keras kepala.

14:12 Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini."

Survey menunjukkan 70% orang di dunia ini menolak perubahan. Dan berapa banyak Saudara tahu hanya ada 1 hal yang pasti dalam hidup ini : PERUBAHAN! Ketakutan membuat kita menolak segala sesuatu yang baru. Saudara, waktu orang menolak perubahan, biasanya itu karena mereka takut.

  1. KETAKUTAN MEMBUAT KITA BERPIKIR PENDEK

14:12 Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini."

Ketakutan membuat kita hidup di masa lalu. Kita mulai berjalan mundur/backward, berputar balik, kembali ke Mesir. Orang Israel berkata, “Kita tidak mau ke T. Perjanjian, kita tidak mau ke Tanah yang berlimpah susu dan madu, kita ingin kembali ke Mesir.” Mereka berpikiran pendek. Mungkin mereka mulai berkata, “Ingat nggak masa lalu yang indah?” Masa lalu yang indah apa? Mereka tidak punya masa lalu yang indah di Mesir. Mereka jadi budak di sana, dilecehkan, diperlakukan secara salah, dihukum. Tetapi faktanya adalah : mereka lebih suka PERBUDAKAN daripada KETIDAKPASTIAN. Hari-hari ini banyak orang takut kebebasan. Mengapa? Kalau Saudara jadi budak, Saudara tidak usah buat keputusan sendiri. Saudara tidak perlu bertanggungjawab atas kehidupan Saudara sendiri.

2. TOLAK PATAH SEMANGAT

MAZMUR 23:4

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Daud berjalan.... Dia tidak lari, panik, teriak-teriak ketakutan! –he stays cool. Daud memutuskan untuk tidak kehilangan ketenangan waktu dia berjalan melewati lembah. Dia memutuskan untuk menolak pikiran-pikiran yang melemahkan (mati aku, mati aku, aku pasti gak bisa, aku pasti jatuh miskin, aku pasti cerai, aku pasti gak laku kawin), dia memilih untuk tidak patah semangat. Bagaimana caranya? Fokus pada kuasa Tuhan bukan pada masalah Saudara Kuncinya : Saudara harus fokus pada YESUS, bukan KEADAAN. Pada JURUSELAMAT bukan pada SITUASI. Bukan pada PROBLEM tapi pada KUASA TUHAN.

3. DEKATKAN DIRI PADA HADIRAT TUHAN

Tuhan bukan seorang yang tidak nyata. Tuhan adalah seorang pribadi. Dan pribadi memiliki hadirat.

MAZMUR 23:4

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku;

Daud katakan, “Tuhan Engkau selalu besertaku di dalam lembah kelam.” Saudara tidak akan pernah melewati lembah kelam sendirian. Saudara tidak akan pernah melewati masa kelam seorang diri. Tuhan menjanjikan hadirat-Nya

Yesaya 43:2

Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.

Sekarang coba lihat ayat 5 dalam Maz.23, ada perubahan kata ganti orang.

3 ayat pertama untuk Tuhan digunakan kata ganti orang ke-3 “Dia.”

23:1 Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

23:2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;

23:3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Tetapi waktu Daud berjalan dalam lembah kelam dia tidak bicara TENTANG TUHAN, tetapi dia berbicara KEPADA TUHAN!

23:4, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

23:5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.

Di dalam lembah Daud bertemu muka dengan muka dengan Tuhan. The ultimate become intimate. Religion become relationship. Jadi mendekatlah pada Tuhan pada waktu melewati lembah kelam.

4. BERGANTUNGLAH PADA PERLINDUNGAN & PIMPINAN TUHAN

Mazmur 23:4

gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

v Gada : panjang sekitar 65 cm, di ujungnya ada kepala yang berat. Setiap kali ada serigala mengganggu domba, sang gembala menggunakan gada seperti misil dan mengusir serigala. Tuhan juga selalu menjaga kita dari serangan setan. Tidak ada senjata yang ditempa melawan kita akan berhasil. Setiap kali setan menyerang kita maka Tuhan adalah gembala yang baik, maka Yesus akan menggunakan gadanya sehingga setan datang dari satu jurusan tapi pergi kocar kacir ke 7 jurusan.

v Tongkat : panjang dengan ujung seperti pengait. Jadi gembala menggunakan pengait ini untuk membuat domba tetap dekat dengan dia. Itu sebabnya Alkitab katakan bahwa Dialah yang mengangkat kepalaku, yang membuatku selalu memandang kemulian-Nya.

23:4 Yea, though I walk through the valley of the shadow of death

Daud tidak berjalan di valley of death tapi valley of the SHADOW of death. Banyak orang takut dengan bayangan, bahkan bayangannya sendiri! Setiap kita akan mengalami “pengalaman bayangan” ini, dan kita perlu mengetahui 3 hal tentang bayangan ini :

  1. BAYANGAN SELALU LEBIH BESAR DARI KENYATAAN

Saudara ketakutan dan kekuatiran selalu lebih besar dari masalah sesungguhnya.

  1. BAYANGAN TIDAK BISA MENYAKITI KITA

Ada yang pernah dipukul oleh bayangan? Bayangan adalah sesuatu yang tidak nyata, mungkin menakutkan Saudara tetapi tidak bisa menyakiti Saudara.

  1. TIDAK AKAN ADA BAYANGAN KALAU TIDAK ADA SINAR

Waktu Saudara berjalan dalam lembah bayang-bayang maut Saudara merasa sendirian, “Tuhan sudah melupakan aku, aku dibiarkan sendirian.” Tapi setiap kali ada bayangan berarti ada sinar di dekat tempat tsb. Yesus adalah terang dunia.

If u look to the world, u will be distressed

If u look inside u, u will be depressed

But if u look to Jesus u will find rest.

Semuanya ada dalam pilihan Saudara, kemana Saudara mengarahkan mata Saudara.

Waktu Saudara berjalan dalam lembah jangan lihat pada bayangan, lihatlah pada Sang Terang!

MAZMUR 34:20

Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;

Jadi orang Kristen juga mengalami pengalaman lembah. Sama seperti orang lain, orang Kristen juga mengalami kekecewaan, penderitaan, kehilangan orang yang dikasihi, punya masalah keuangan, masalah keluarga....TETAPI ada satu perbedaan BESAR. Orang percaya dan orang tidak percaya melewati jalan yang sama, perbedaan bagi orang percaya adalah bukan pada tidak adanya KEKELAMAN/bayangan tapi KEHADIRAN SANG GEMBALA! Tuhan beserta kita, hadirat serta kuasa-Nya akan membawa kita ke level yang lebih tinggi lagi!


Senin, 24 Mei 2010

JANGAN TERLAMBAT MERESPONI FIRMAN TUHAN

Ketika memberi nasehat kepada seseorang, seringkali nasehat yang diberikan dianggap angin lalu saja, nasehat yang diberikan untuk mendidik dan mengajar tidak didengar apalagi mau dituruti. Ketika seorang anak diperingatkan orang tua agar berhati-hati dalam pergaulan, pada umumnya anak tidak mau mendengar dan menganggap perkataan atau nasehat orang tua adalah kuno, kolot dan ketinggalan jaman. Ketika seorang pendeta atau seorang hamba Tuhan memperingatkan seseorang dengan firman Tuhan, terkadang orang tersebut mengabaikan dan menganggap angin lalu semuanya. Baru setelah apa yang telah dikatakan terjadi, orang tersebut mau percaya dan mau menuruti, namun sudah terlambat dan penyesalan memang selalu datang terlambat.

Didalam Yohanes 2:22 ada diceritakan mengenai perkataan Tuhan Yesus yang tidak dipahami dan tidak didengar pada saat Dia berkata mengenai suatu kebenaran. Namun setelah semua yang dikatakan terjadi barulah orang percaya. Dikatakan demikian : “Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.”

Tuhan Yesus di dalam pelayananNya sering mendapat perlawanan dari orang Yahudi, terutama orang Farisi. Pada saat Dia menyucikan Bait Suci dengan mengusir para pedagang, orang-orang tersebut menantang Yesus untuk memberikan tanda bahwa Dia berhak memperlakukan mereka seperti itu. Dan Yesus mengatakan bahwa Dia dapat mendirikan Bait Suci tersebut dalam tiga hari (Yohanes 2:19), namun orang-orang tersebut tidak percaya kepadaNYa.

Saudara, memang sering terjadi apa yang dikatakan seseorang kepada orang lain, baik orang awam kepada seseorang, orang tua kepada anak, pendeta kepada jemaat, hamba Tuhan kepada orang yang diinjili, atau bahkan seseorang yang berbicara mengenai firman Tuhan dan mengenai suatu kebenaran, selalu tidak dipercaya atau ditolak oleh orang lain. Apalagi kalau yang menyampaikan atau memberitakan firman Tuhan adalah seorang yang bukan pendeta, bukan penginjil. Jangankan mau menurut dan melakukannya, mendengar saja kadang sulit dan hati seperti membatu. Firman Tuhan yang sudah disampaikan seperti angin lalu yang meninabobokan seseorang, nasehat dianggap sebagai suatu omelan yang tidak mendasar, dan lain sebagainya. Padahal firman Tuhan yang disampaikan sebenarnya bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (II Timotius 3:16). Dan dari pengalaman yang diceritakan oleh Injil Yohanes ini, Firman Tuhan mengajak kita untuk tidak mengabaikan sedikitpun kebenaran firman Tuhan yang disampaikan oleh seseorang baik oleh pendeta, hamba TUhan, penginjil, orang awam atau anak kecil sekalipun harus kita dengarkan dan kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari dan jangan sampai terlambat. Oleh karena itu, mari kita dengar firman Tuhan, mari kita dengar nasehat orang lain yang dapat mendidik dan mengajar kita, renungkan dan lakukan. JANGAN TERLAMBAT MERESPONI FIRMAN TUHAN.

Minggu, 23 Mei 2010

Hidup Kita Terlukis Di Telapak Tangan Tuhan

Oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
TAHUN A: Minggu, 25 Mei 2008

Bacaan : Yesaya 49:8-16a , Mazmur 131, I Korintus 4:1-5, Matius 6:24-34

Tujuan: “Anggota jemaat mampu menghayati setiap aspek kehidupannya dalam genggaman tangan Tuhan, dan diteguhkan bahwa seluruh pergumulan mereka telah terlukis di telapak tangan Tuhan sehingga mereka tidak hidup dalam kekuatiran tetapi menjadi berkat bagi banyak orang”.

“Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku;
tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku” (Yes. 49:16)



Penciptaan manusia menurut kesaksian Alkitab pada hakikatnya menyatakan bahwa manusia dibentuk dari debu tanah dan kemudian Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya, sehingga manusia dapat menjadi mahluk yang hidup (Kej. 2:7). Dalam pemikiran kitab Kej. 2:7 tersebut terdapat dua tindakan Allah, yaitu: Allah membentuk manusia dari debu tanah yang berarti menunjuk kepada tindakan Allah yang menggunakan tanganNya. Setelah itu Allah menghembuskan nafas hidup yang parallel dengan tindakan Allah menghembuskan firmanNya. Jadi apabila manusia dapat memiliki suatu kehidupan serba unik dan khusus adalah karena pekerjaan tangan dan firman Allah. Itu sebabnya di Kej. 1:26-27 manusia dinyatakan sebagai “gambar dan rupa Allah”. Karena manusia telah diciptakan dengan tangan dan firman Allah, maka manusia diberi kedudukan khusus untuk mencerminkan sifat-sifat dan karakter Allah. Tujuannya adalah agar dengan “tangan dan pikirannya”, manusia diberi karunia untuk menjadi berkat bagi setiap sesamanya. Setiap tangan manusia dapat terulur menyatakan berkat sebagai kepanjangan tangan Tuhan; dan pikirannya dapat termanifestasikan untuk menangkap atau memahami pikiran dan kehendak Allah. Dengan tangan dan pikirannya, manusia dapat memiliki orientasi hidup yang mempermuliakan nama Tuhan. Namun ternyata dalam perjalanan sejarahnya umat manusia tidak senantiasa mau menggunakan tangan dan pikirannya untuk mempermuliakan nama Tuhan dan menjadi berkat bagi sesamanya. Tangan dan pikirannya justru sering disalahgunakan sebagai alat yang efektif dalam berbagai perbuatan dosa, seperti tindakan mencuri, merampas, merusak, menghancurkan dan membunuh. Akibatnya Allah menghukum manusia khususnya umat yang telah menyimpang dari perjanjian kasih-karuniaNya. Allah kemudian memakai tentara asing seperti raja Sanherib dan tentara dari kerajaan Asyur (705-681 sM), dan juga raja Nebukadnezar dan tentara Babel (604-562 sM) sebagai alat di tanganNya untuk menghukum umat Israel. Bahkan serangan raja Nebukadnezar pada waktu itu begitu fatal sebab umat Israel dapat dikalahkan secara telak. Bait Allah berhasil diruntuhkan dan akhirnya mereka hidup dalam pembuangan di Babel.

Namun tidak senantiasa tangan Tuhan dipakai untuk menghukum umatNya. Allah kemudian menggerakan raja Koresy dari kerajaan Medi-Persia sebagai alat di tanganNya untuk menaklukkan Babel pada tahun 539 sM. Raja Koresy dipakai oleh Tuhan untuk membebaskan umat Israel dari pembuangan di Babel dan membawa mereka kembali ke tanah Kanaan. Itu sebabnya di Yes. 44:28, Allah menyebut raja Koresy dengan ungkapan: “Akulah yang berkata tentang Koresy: dia gembalaKu, segala kehendakKu akan digenapinya dengan mengatakan tentang Yerusalem: Baiklah ia dibangun! Dan tentang Bait Suci: Baiklah diletakkan dasarnya!”. Allah telah memakai raja Koresy sebagai alat di tanganNya untuk membebaskan dan menyelamatkan umatNya. Sehingga kini umat Israel telah dipulihkan oleh Tuhan dan memiliki masa depan yang cerah. Apabila umat Israel pernah meratap: “Tuhan telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku” (Yes. 49:14). Maka Tuhan memberikan jawaban: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” (Yes. 49:15). Ini berarti peristiwa pembebasan mereka dari cengkeraman dan pembuangan di Babel oleh raja Koresy tidak dihayati oleh umat Israel sekedar suatu peristiwa politis dan pergantian kekuasaan; tetapi dihayati sebagai peristiwa teologis yang mana pada hakikatnya Allah tidak pernah melupakan mereka. Seperti seorang ibu yang tidak pernah melupakan anaknya, demikian pula Allah juga tidak akan pernah melupakan umatNya. Bahkan sekalipun ada seorang wanita yang melupakan dan mengabaikan anaknya, maka Allah sekali-kali tidak akan pernah melupakan mereka. Allah selalu mengingat umatNya walau mereka senantiasa menyakiti, melukai dan melawan kehendak Allah. Bahkan sangat menarik tindakan Allah yang selalu mau mengingat dan tidak melupakan umatNya digambarkan oleh Yes. 49:16a, dengan ungkapan: “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tanganKu”.

Ungkapan Yes. 49:16a tersebut sepertinya mau menyatakan bagaimana sikap kepedulian dan perhatian Allah yang sedemikian dalam, intensif dan personal; sehingga wajah-wajah setiap umatNya selalu tergambar dengan jelas di telapak tanganNya. Setiap kali Allah melihat telapak tanganNya, maka Dia juga melihat setiap kehidupan dan pergumulan umatNya. Yang mana melalui tanganNya, Allah telah sejak semula pernah mencipta dan membentuk manusia dari debu tanah dan kemudian Dia menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia. Jadi tangan Allah dimaknai oleh umat Israel sebagai wujud dari kuasa Allah yang kreatif dalam menciptakan umat manusia. Tetapi juga tangan Allah dipakai sebagai suatu simbolisasi dari sikap dan tindakan Allah yang selalu mau mengingat setiap kehidupan umatNya. Bukankah salah satu dari organ tubuh yang paling mudah kita lihat setiap saat adalah tangan dan telapak tangan kita? Sehingga melalui tangan dan telapak tangan yang kita miliki, kita dapat melakukan berbagai kegiatan yang cepat, efektif dan kreatif. Tetapi lebih dari pada itu tangan dan telapak tangan juga dapat kita pakai untuk mengungkapkan perhatian, kasih dan pertolongan kepada orang-orang di sekitar kita. Kepada anak-anak, kita dapat menggunakan tangan untuk mengungkapkan kasih-sayang dengan cara membelai-membelai kepala mereka. Dan kepada orang-orang yang menderita, kita dapat memakai tangan untuk menolong dan memberdayakan mereka. Itu sebabnya pula di Yes. 49:10b menyatakan tindakan Allah, dengan ungkapan: “Sebab Penyayang mereka akan memimpin mereka dan akan menuntun mereka ke dekat sumber-sumber air”. Secara implisit makna dari tindakan Allah yang menuntun umatNya di Yes. 49:10b jelas menunjuk kepada aktivitas “tangan Allah” yang terulur dari hatiNya yang selalu penyayang. Dalam hal ini Allah selalu peduli dengan permasalahan dan penderitaan kita sehari-hari seperti seseorang yang selalu dapat melihat tangan dan telapak tangannya. Itu sebabnya Allah selalu berbela-rasa dan bersedia untuk mengulurkan tanganNya sehingga kita dipelihara dan diselamatkan. Di Yes. 49:2a, terdapat ungkapan dari tokoh hamba Tuhan yang berkata: “Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tanganNya”. Sang hamba Tuhan tersebut menjadikan tangan Tuhan sebagai tempat di mana dia berlindung. Demikian pula sikap Allah terhadap seluruh umatNya. Dengan tanganNya Allah telah mencipta, membentuk, menghukum dan mendisiplinkan manusia; tetapi juga dengan tanganNya Allah berkenan untuk memulihkan, menyayangi, melindungi dan selalu mau mengingat setiap pergumulan yang dialami oleh umatNya.

Dengan pemahaman teologis bahwa seluruh kehidupan kita telah tergambar atau terlukis di telapak tangan Tuhan, maka seharusnya kehidupan kita sebagai umat percaya dipenuhi oleh sikap penyerahan diri dan perasaan damai (syaloom). Karena Allah selalu peduli dengan mengingat dan mengetahui secara persis segala pergumulan kita, maka kita dimampukan untuk hidup tanpa perasaan kuatir atau cemas akan hari esok. Sayangnya pemahaman teologis tersebut tidak senantiasa meresapi seluruh aspek kerohanian kita, sehingga kehidupan kita masih dipenuhi oleh berbagai perasaan kuatir. Selaku umat percaya kita sering mampu merefleksikan makna hidup yang berada di telapak tangan Tuhan; tetapi pada sisi lain kita masih dipenuhi oleh perasaan kuatir terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Perasaan kuatir atau kecemasan dalam kehidupan sehari-hari seringkali memiliki daya dorong yang begitu besar sehingga mampu melumpuhkan seluruh kemampuan rasional bahkan keyakinan iman yang kita miliki. Walaupun perasaan kuatir pada hakikatnya suatu perasaan cemas terhadap sesuatu yang tidak jelas atau tidak tentu (caused by uncertainty about something); namun faktanya perasaan kuatir mampu mengguncang seluruh sendi-sendi akal-budi dan spiritualitas kita. Sehingga saat kita dikuasai oleh perasaan kuatir atau cemas, kita tidak mampu lagi berpikir jernih dan obyektif. Kita juga tidak mampu berpikir secara kritis dan realistis saat kita dilanda oleh perasaan kuatir. Lebih jauh lagi, saat kita hidup dalam kekuatiran maka kita tidak mampu mempraktekkan suatu spiritualitas yang berserah diri kepada Tuhan. Akibatnya saat kita berada dalam perasaan kuatir, kita merasa tidak lagi hidup dalam naungan tangan Tuhan yang kuat. Kehadiran Tuhan terasa begitu jauh dan tanganNya kita rasakan seperti tak mampu untuk menjangkau dan menolong diri kita. Pengalaman itulah yang pernah dirasakan oleh umat Israel saat mereka dikalahkan secara telak, kemudian ditawan dan dibuang dalam pembuangan di Babel: “Sion berkata: Tuhan telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku” (Yes. 49:14). Namun juga pengalaman berupa kekuatiran atau kecemasan tersebut sering diderita oleh umat manusia sepanjang masa. Sehingga Tuhan Yesus berkata: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Mat. 6:25).

Problem kekuatiran yang sering dialami oleh umat manusia tidak didekati oleh Tuhan Yesus dengan metode “psikologis”; tetapi dengan pendekatan teologis yang menempatkan karya tangan Allah dalam kehidupan umat manusia. Itu sebabnya dalam pengajaranNya di atas bukit, Tuhan Yesus memotivasi dan menginspirasi kita untuk senantiasa menempatkan problem perasaan kuatir yang dialami oleh kebanyakan orang, yaitu:
• Di Mat. 6:26, Tuhan Yesus menyatakan bahwa burung-burung di udara dapat hidup karena mereka diberi makan oleh Bapa di sorga.
• Mat. 6:28-29, Tuhan Yesus mengajarkan agar kita tidak hidup dalam kekuatiran karena seperti Allah menumbuhkan bunga bakung di ladang yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal tetapi keindahan bunga bakung melebihi kemuliaan dan keindahan pakaian dari raja Salomo, maka pastilah Allah juga akan memelihara kehidupan kita.
• Mat. 6:30, Allah yang mendandani rumput di ladang yang hari ini ada dan besok dibuang dalam api, maka pastilah Allah akan lebih peduli dengan setiap pergumulan dan persoalan umatNya.

Sangat menarik, semua kata kerja seperti: “Allah memberi makan burung-burung di udara”, “Allah menumbuhkan bunga bakung di ladang” dan “Allah mendandani rumput” pada prinsipnya menunjuk kepada tangan Allah yang bekerja yaitu: tangan Allah yang mencipta, memelihara dan melindungi umat manusia dan seluruh ciptaanNya. Tekanan utama dari pengajaran Tuhan Yesus di sini adalah: “Bukankah martabat manusia jauh melebihi semua ciptaan Tuhan?” Beberapa kali Tuhan Yesus berkata: “Bukankah kamu jauh melebihi….? (Mat. 6:26b, 30). Ini berarti sesungguhnya Allah senantiasa memberi perhatian atau kepedulian yang sangat khusus dan personal kepada setiap umatNya. Tangan Allah tiada henti-hentinya terus bekerja dan terulur untuk memelihara, menjaga, merawat dan melindungi setiap umat yang berseru kepadaNya. Jadi manakala tangan Tuhan terus bekerja dalam sejarah kehidupan setiap umatNya, mengapa kita masih hidup dalam kekuatiran dan tanpa pengharapan? Apabila Allah Bapa di sorga berkenan campur tangan dalam setiap pergumulan, permasalahan dan penderitaaan kita; mengapa kita masih membiarkan diri dikuasai oleh perasaan cemas yang tiada berkeputusan? Ternyata bagi Tuhan Yesus, masalah kecemasan dan kekuatiran yang merongrong hidup seseorang tidak dipandangNya hanya sekedar suatu fenomena psikologis; tetapi berkaitan erat dengan ekspresi iman. Seseorang yang terus kuatir dipandang oleh Tuhan Yesus sebagai “orang-orang yang kurang percaya” (Mat. 6:30). Atau Tuhan Yesus menyebut mereka sebagai: “bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah”. Di Mat. 6:32, Tuhan Yesus berkata: Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu”. Dengan perkataan lain, sikap hidup yang terus kuatir pada hakikatnya menunjukkan sikap yang kurang percaya dan tidak mengenal Allah walaupun kita mengaku sebagai orang-orang yang beragama atau beriman. Nilai spiritualitas kita sama sekali bukan ditentukan oleh sikap pengakuan iman secara liturgis dan doktrinal; tetapi sejauh mana kita mampu menempatkan seluruh kekuatiran, kecemasan dan ketakutan atau kegelisahan yang kita alami dalam penyerahan diri dalam genggaman tangan Tuhan. Apabila kita memposisikan diri selaku “hamba-hamba Allah yang berserah diri” maka kita juga akan memiliki sikap dan spiritualitas sebagaimana yang dilakukan oleh sang “hamba Tuhan” di Yes. 49:2a, yang mana dia berkata: “Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tanganNya”. Dalam hal ini kita akan menempatkan diri kita di dalam naungan tangan Tuhan sebagai tempat perlindungan yang aman.

Makna berlindung dalam naungan tangan Tuhan sebagaimana dinyatakan oleh firman Tuhan tidak pernah dipahami sebagai sikap yang pasif. Sebab di Yes. 49:6b, sang hamba Tuhan tersebut dipanggil untuk “menjadi terang bagi bangsa-bangsa”. Lalu di Yes. 49:8b, umat Israel yang berlindung dalam tangan Tuhan dipanggil “untuk membangun bumi kembali dan membagi-bagikan tanah pusaka yang sunyi sepi”. Demikian pula dalam pengajaran Tuhan Yesus di Mat. 6:33. Umat Tuhan dipanggil agar tidak hidup dalam kekuatiran, tetapi agar mereka lebih mengutamakan mencari dahulu Kerajaan Allah. Tuhan Yesus berkata: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Bukankah aspek teologis agar umat Allah dapat menjadi terang bagi bangsa-bangsa dan membangun bumi pada hakikatnya merupakan wujud dari tindakan “mencari Kerajaan Allah dan kebenaranNya”? Mewujudkan kehadiran Kerajaan Allah dan kebenaranNya berarti pula kita menghadirkan kehidupan bersama yang penuh dengan damai-sejahtera, keselamatan dan keadilan serta keutuhan ciptaan. Inilah kebutuhan hidup manusia yang paling mendasar dan tujuan hidup yang penuh makna. Sebab manakala kita gagal untuk mewujudkan realitas damai-sejahtera, keselamatan, keadilan dan keutuhan ciptaan; maka kita akan senantiasa hidup dalam kekuatiran, kecemasan dan ketakutan. Lebih jauh lagi manakala perasaan kuatir, cemas dan ketakutan yang tidak menemukan solusi atau jalan keluar maka akan berubah menjadi sesuatu yang destruktif; yaitu “sikap destruktif yang internal” (kepada diri sendiri), dan “sikap destruktif yang eksternal” (kepada orang-orang di sekitar kita). Sebaliknya sikap yang mau berlindung dalam naungan tangan Tuhan dan percaya bahwa Tuhan sangat peduli dengan segala pergumulan kita akan memotivasi, mendorong dan memberdayakan diri kita untuk menjadi kepanjangan tangan Tuhan. Di dalam iman kepada Kristus, kita dimampukan untuk menyalurkan berkat, menyampaikan penghiburan dan memberdayakan sesama yang lemah serta membebaskan mereka yang tertindas. Jika demikian, apakah kehidupan saudara telah bersandar penuh dalam genggaman tangan Tuhan? Apabila kita telah bersandar di dalam naungan tangan Tuhan, maka seharusnya kehidupan kita tidak lagi didominasi oleh perasaan kuatir akan hari esok sebab seluruh pergumulan, kesusahan dan penderitaan kita telah terlukis jelas di dalam telapak tanganNya. Kalau hidup kita telah terlukis di telapak tangan Tuhan, bukankah sangat relevan sabda dari Tuhan Yesus kepada kita, yaitu: “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari" (Mat. 6:34). Amin.